Beirut Lolos dari Serangan, Tapi Netanyahu Tegaskan IDF Tetap Bergerak di Lebanon Selatan

DIKSIMERDEKA.COM BEIRUT Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru. Lebanon mengumumkan bahwa Hezbollah telah menerima proposal Amerika Serikat untuk menghentikan serangan terhadap Israel. Sebagai gantinya, Israel disebut tidak akan lagi menyerang Beirut, khususnya kawasan pinggiran selatan yang selama ini menjadi basis kuat Hezbollah. Begitu yang dilaporkan BBC.

Kabar tersebut langsung memicu optimisme bahwa konflik yang berbulan-bulan membara akhirnya mulai mereda.

Namun situasi di lapangan belum sepenuhnya tenang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut. Meski begitu, ia tetap memberikan peringatan keras.

“Jika Hezbollah tidak menghentikan serangan terhadap kota-kota dan warga sipil kami.”

Artinya, ancaman serangan ke Beirut belum benar-benar hilang.

Trump Klaim Berhasil Redakan Konflik

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terlibat langsung dalam komunikasi dengan kedua pihak.

Menurut Trump, pembicaraan dengan Netanyahu dan perwakilan Hezbollah menghasilkan kesepakatan penting untuk menghentikan aksi saling serang.

“Mereka sepakat bahwa seluruh aksi tembak-menembak akan dihentikan.”

Trump kemudian menegaskan bahwa pasukan Israel yang sebelumnya bergerak menuju Beirut telah diperintahkan untuk mundur.

“Tidak akan ada pasukan yang menuju Beirut.”

Pernyataan itu langsung menjadi sorotan karena muncul saat kawasan Timur Tengah masih dibayangi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Hezbollah dan Israel Masih Saling Serang

Meski kesepakatan diumumkan, fakta di lapangan menunjukkan situasi masih panas.

Hezbollah mengaku melancarkan tiga serangan terhadap tank dan pasukan Israel di wilayah utara menggunakan drone serta artileri.

Sementara itu, militer Israel menyatakan berhasil mencegat dua proyektil yang ditembakkan dari Lebanon.

Di sisi lain, media Lebanon melaporkan serangan udara Israel masih terjadi di sejumlah wilayah selatan negara tersebut.

Bahkan, ledakan besar dilaporkan mengguncang kota Debbine.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gencatan senjata masih sangat rapuh.

Iran Kirim Sinyal Keras

Iran menjadi pihak yang paling vokal menanggapi perkembangan terbaru.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak bisa dipisahkan dari situasi di Lebanon.

“Pelanggaran di satu front merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua front.”

Peringatan tersebut dipandang sebagai pesan langsung kepada Israel dan Amerika Serikat agar tidak memperluas operasi militer di Lebanon.

Media Iran bahkan melaporkan bahwa Teheran bisa menunda negosiasi tidak langsung dengan Washington jika serangan Israel terus berlanjut.

Selat Strategis Dunia Ikut Terancam

Ketegangan juga berpotensi merembet ke jalur pelayaran internasional.

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran dan sekutunya dapat mengaktifkan front lain, termasuk kawasan Bab al-Mandab yang menjadi pintu masuk Laut Merah.

Ancaman itu langsung membuat pasar energi global waspada.

Harga minyak dunia sempat melonjak hampir 5 dolar AS per barel setelah laporan saling serang antara Amerika Serikat dan Iran muncul pada akhir pekan.

Para pelaku pasar khawatir konflik dapat kembali mengganggu jalur distribusi energi global.

Netanyahu Belum Mau Angkat Kaki

Meski setuju menghentikan serangan ke Beirut, Netanyahu menegaskan militer Israel tetap akan beroperasi di Lebanon selatan.

“IDF akan terus beroperasi di Lebanon selatan sesuai rencana.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Israel belum sepenuhnya mengendurkan tekanan terhadap Hezbollah.

Karena itu, banyak pengamat menilai kesepakatan saat ini lebih mirip jeda taktis daripada perdamaian permanen.

Timur Tengah Masih Jauh dari Kata Aman

Kesepakatan penghentian serangan timbal balik memang memberi harapan baru bagi Lebanon dan Israel.

Namun bentrokan yang masih terjadi, ancaman Iran, serta operasi militer Israel yang belum berhenti menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah masih berada di atas bara api.

Kini perhatian dunia tertuju pada apakah kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat ini mampu bertahan atau justru menjadi jeda singkat sebelum konflik kembali meledak lebih besar.