Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar! Ekonom UI Bongkar Biang Kerok yang Bikin Investor Kabur
BI Sudah Gaspol Intervensi, Tapi Rupiah Tetap Tersungkur ke Level Terendah Sepanjang Sejarah
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA–Rupiah Melemah semakin membuat pelaku pasar dan masyarakat waswas. Nilai tukar mata uang Garuda kini nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, meski Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sudah menggelontorkan berbagai jurus untuk menahan laju pelemahan.
Data perbankan menunjukkan harga jual dolar AS di sejumlah bank besar sudah mendekati Rp18.000. Bahkan, di BRI, dolar sempat dijual pada level Rp17.990 per dolar AS. Artinya, hanya tinggal selangkah lagi menuju angka yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis baru pasar.
Sementara itu, di pasar spot, rupiah ditutup di level Rp17.881 per dolar AS. Yang mengkhawatirkan, dalam sepekan terakhir mata uang Indonesia terus melemah tanpa sekalipun mencatat penguatan.
Rupiah Melemah Bukan Sekadar Gara-gara Timur Tengah
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Tengku Rifki, menilai ada dua faktor utama yang mendorong Rupiah Melemah.
Faktor pertama berasal dari luar negeri, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu investor global mencari aset aman atau flight to safety ke dolar AS.
Namun menurutnya, masalah terbesar justru datang dari dalam negeri.
“Yang mungkin lebih besar peranannya adalah faktor domestik, di mana postur fiskal kita ini semakin menyempit.” ujarnya , Senin (1/6/2026).
Ia menjelaskan, berbagai kebijakan pemerintah belakangan ini belum sepenuhnya mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Akibatnya, arus modal keluar (capital outflow) terus terjadi dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
BI Sudah Maksimal, Tapi Ada Batasnya
Bank Indonesia sebenarnya sudah bergerak agresif.
Selain menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen, BI juga melakukan intervensi di berbagai instrumen pasar keuangan.
Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, cadangan devisa digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui pasar DNDF, NDF, hingga instrumen SRBI.
Menurut Tengku Rifki, dari sisi moneter, langkah BI sudah mendekati batas optimal.
“BI sudah melakukan intervensi, tingkat suku bunganya sudah dinaikkan sebesar 50 basis poin.”
Namun ia mengingatkan bahwa kebijakan moneter memiliki keterbatasan.
“Kebijakan moneter ini ada limitasinya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah hingga problem utamanya diselesaikan yaitu dari sisi fiskal.”
Investor Soroti Kondisi Fiskal Indonesia
Di tengah pelemahan rupiah, sorotan kini mengarah ke kondisi fiskal nasional.
Menurut Tengku, ruang fiskal pemerintah semakin sempit akibat meningkatnya beban subsidi energi serta berbagai program prioritas yang membutuhkan anggaran besar.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan sejumlah proyek strategis lainnya disebut ikut menyedot kapasitas fiskal negara.
Karena itu, investor mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga defisit dan membiayai pembangunan secara berkelanjutan.
“Yang pemerintah perlu pikirkan itu adalah untuk memperluas ruang fiskal kita.”
Menurutnya, kepercayaan investor sangat bergantung pada keyakinan bahwa pemerintah mampu mengelola utang dan menjaga disiplin anggaran.
Rupiah Juga Kalah dari Dolar Singapura
Yang menarik, Rupiah Melemah bukan hanya terhadap dolar AS.
Mata uang Indonesia juga tertekan terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia.
Dolar Singapura bahkan mendekati Rp14.000, sementara ringgit Malaysia bergerak menuju Rp4.500.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia tidak hanya berasal dari faktor global.
“Ini memverifikasi bahwa isu utama yang kita hadapi saat ini adalah dari sisi domestik, terutama dari sisi fiskal.”
Menurut Tengku, jika pelemahan hanya dipicu faktor eksternal, maka mata uang negara berkembang lain seharusnya mengalami tekanan dengan pola yang sama.
Namun kenyataannya, rupiah justru melemah lebih dalam dibanding beberapa negara tetangga.
Target Rupiah 2027 Terancam?
Pemerintah menargetkan kurs rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada 2027.
Namun melihat kondisi saat ini, target tersebut tidak akan mudah dicapai.
Tengku menilai kunci utama terletak pada kredibilitas APBN dan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal.
“Postur fiskalnya perlu betul-betul meyakinkan investor bahwa postur fiskal kita itu kredibel, pruden, dan memang bisa dijaga.”
Jika investor tidak yakin terhadap arah fiskal Indonesia, arus modal keluar diperkirakan masih akan berlanjut.
Akibatnya, tekanan terhadap rupiah bisa bertahan lebih lama.
Rupiah Masih Punya Harapan
Meski demikian, masih ada peluang bagi rupiah untuk bangkit pada semester kedua tahun ini.
Bank Indonesia memperkirakan tekanan akan mereda setelah musim haji berakhir, pembagian dividen selesai, dan tensi geopolitik global mulai menurun.
Namun banyak ekonom menilai bahwa tanpa pembenahan fiskal yang lebih meyakinkan, penguatan rupiah hanya akan bersifat sementara.
Karena itu, pertarungan mempertahankan rupiah tidak lagi hanya menjadi tugas Bank Indonesia, tetapi juga ujian besar bagi kebijakan fiskal pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar.

Tinggalkan Balasan