DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali mencatatkan kinerja positif di tengah tantangan ekonomi global dan ketidakpastian pasar keuangan. Hingga Mei 2026, bank milik Pemerintah Provinsi Bali tersebut berhasil membukukan laba sebesar Rp696 miliar, didukung pertumbuhan kredit dan penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, mengatakan capaian tersebut diraih di tengah tekanan geopolitik global serta kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang masih berlangsung.

“Di tengah berbagai tantangan tersebut, Bank BPD Bali tetap mampu menjaga pertumbuhan usaha dan mencatatkan laba sebesar Rp696 miliar hingga akhir Mei 2026,” kata Sudharma saat peringatan HUT ke-64 Bank BPD Bali di Denpasar, Sabtu (30/5/2026).

Dari sisi intermediasi, Bank BPD Bali mencatat pertumbuhan kredit sebesar 8,46 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penyaluran kredit UMKM yang meningkat hampir 11 persen, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit UMKM nasional yang berada di bawah 1 persen.

Baca juga :  Fraksi Gerindra-PSI Soroti Tata Kelola Internal BPD Bali

Menurut Sudharma, sektor UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian Bali sekaligus kontributor utama pertumbuhan bisnis Bank BPD Bali.

“Kredit UMKM menjadi backbone perekonomian Bali sekaligus motor pertumbuhan Bank BPD Bali. Pertumbuhannya hampir 11 persen, sedangkan secara nasional masih di bawah 1 persen,” ujarnya.

Selain kredit, kinerja penghimpunan dana juga menunjukkan tren positif. Total aset Bank BPD Bali tercatat tumbuh 8,19 persen menjadi Rp43,117 triliun, sementara dana pihak ketiga meningkat 5,68 persen menjadi Rp35,397 triliun.

“Ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada Bank BPD Bali tetap terjaga meskipun kondisi ekonomi global masih bergejolak,” kata Sudharma.

Dari sisi kesehatan perbankan, sejumlah indikator utama juga berada pada level yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sekitar 30 persen, Return on Asset (ROA) mencapai 4,29 persen, Return on Equity (ROE) sebesar 28,39 persen, dan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tetap terjaga di angka 0,96 persen.

Baca juga :  Kebut Target Pembayaran Pajak PBB P2, Bapenda Denpasar Buka Pelayanan di Car Free Day

Sudharma menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir Bank BPD Bali menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Sejak 2018, total aset perseroan meningkat dari Rp24,454 triliun menjadi lebih dari Rp43 triliun pada Mei 2026.

Peningkatan tersebut turut mengangkat posisi Bank BPD Bali di tingkat nasional. Jika pada 2018 berada di peringkat kesembilan dari 27 Bank Pembangunan Daerah di Indonesia, kini BPD Bali berhasil masuk jajaran enam besar nasional.

“Dengan aset sekitar Rp43 triliun, laba Bank BPD Bali sudah mampu menembus lebih dari Rp1 triliun dalam setahun. Bahkan dibandingkan sejumlah BPD yang memiliki aset lebih besar, laba mereka masih berada di bawah BPD Bali,” ujarnya.

Baca juga :  Selenggarakan Customer Loyalty, Bank BPD Bali Ajak Nasabahnya Peduli Bencana

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi capaian kinerja Bank BPD Bali yang dinilai terus menunjukkan tren pertumbuhan positif. Ia optimistis kinerja perseroan masih dapat meningkat hingga akhir tahun.

Berdasarkan realisasi laba hingga Mei 2026, Koster memproyeksikan laba Bank BPD Bali berpotensi mencapai Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun pada akhir tahun apabila tren pertumbuhan saat ini dapat dipertahankan.

“Kalau sampai Juni bisa mencapai lebih dari Rp700 miliar untuk semester pertama dan tren ini terus berlanjut, maka pada Desember 2026 laba Bank BPD Bali bisa mencapai Rp1,4 triliun, bahkan kita berharap bisa mencapai Rp1,5 triliun,” ujar Koster.

Menurut Koster, capaian tersebut menunjukkan Bank BPD Bali tidak hanya menjadi lembaga keuangan daerah yang sehat, tetapi juga mampu berperan sebagai penggerak pembangunan ekonomi dan penguatan sektor produktif di Bali.

Reporter: Agus Pebriana