DIKSIMERDEKA.COM ANGELES CITY – Operasi pencarian korban runtuhnya gedung sembilan lantai yang masih dalam tahap konstruksi di Angeles City, Filipina, berlangsung dramatis. Hingga Senin (25/5), jumlah korban tewas bertambah menjadi empat orang, sementara 17 lainnya masih dinyatakan hilang di bawah tumpukan puing.

Dilansir dari CBS-ABN, bangunan yang sedang dibangun itu ambruk pada Minggu (24/5) dan menghantam sebuah hotel di dekatnya. Seorang warga negara Malaysia yang menginap di hotel tersebut turut menjadi korban tewas.

Awalnya, dua pekerja yang terjebak di bawah reruntuhan sempat ditemukan dalam kondisi hidup. Namun, keduanya akhirnya meninggal dunia meski tim penyelamat berupaya keras mengevakuasi dan memberikan pertolongan medis.

Juru bicara Biro Pemadam Kebakaran wilayah setempat, Maria Leah Sajili, menjelaskan situasi yang dihadapi tim penyelamat sangat sulit.

Baca juga :  Iran Segera Beli Rudal Supersonik China 290 Km, AS Kerahkan 2 Kapal Induk & 150 Pesawat

“Korban pertama berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup, tetapi kondisinya terus menurun dan akhirnya tidak tertolong. Dokter tidak berhasil melakukan resusitasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Korban lainnya mengalami henti jantung sekitar pukul 03.00 dini hari. Dokter tidak dapat memberikan penanganan karena korban masih terjepit reruntuhan.”

Mayoritas dari 17 orang yang masih hilang diduga merupakan pekerja konstruksi yang sedang tidur di lokasi proyek ketika bangunan tiba-tiba runtuh.

Penyebab ambruknya gedung hingga kini masih dalam penyelidikan. Otoritas setempat menyebut sekitar 70 orang bekerja di proyek tersebut, namun sebagian besar sedang libur akhir pekan sehingga tidak berada di lokasi saat kejadian.

Salah seorang pekerja, Alfredo Albis (55), mengaku terbangun ketika bangunan itu roboh. Saat itu ia sedang tidur di barak pekerja yang berjarak sekitar lima meter dari lokasi gedung.

Baca juga :  Kapal Tugboat Musaffah 2 Meledak di Selat Hormuz, Tiga WNI Masih Hilang

“Saya memiliki dua sepupu yang masih terjebak di sana. Mereka bekerja di sini untuk menghidupi keluarga mereka dan sekarang hilang,” katanya.

Menurut Albis, kemungkinan kerabatnya sudah tidak selamat semakin besar seiring waktu yang terus berjalan.

Tim penyelamat masih melakukan pencarian secara manual karena kondisi reruntuhan sangat labil. Pergerakan kecil saja dapat memicu longsoran puing baru yang membahayakan korban maupun petugas.

“Operasi penyelamatan pada kasus runtuhnya bangunan sangat menantang karena setiap pergeseran dapat menyebabkan bagian lain bangunan bergerak dan menghancurkan korban yang masih terjebak,” kata Sajili.

Ia menambahkan, pergeseran mendadak juga berisiko menimbun petugas penyelamat.

Untuk mempercepat pencarian, tim SAR akan menggunakan pemindai termal guna mendeteksi kemungkinan adanya tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan.

Baca juga :  Trump Beri Iran Waktu 10 Hari untuk Deal Nuklir, Armada Perang AS Bergerak

Apabila tidak ditemukan lagi korban selamat, alat berat seperti ekskavator akan dikerahkan untuk menyingkirkan puing dan mengevakuasi jenazah.


Dampak dan Pelajaran dari Tragedi Ini

Runtuhnya gedung sembilan lantai di Pampanga kembali menyoroti persoalan keselamatan konstruksi di kawasan Asia Tenggara. Insiden ini berpotensi memicu investigasi besar terhadap standar bangunan, pengawasan proyek, serta kepatuhan kontraktor terhadap aturan keselamatan kerja.

Selain itu, tragedi tersebut dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap sektor properti apabila ditemukan adanya pelanggaran prosedur konstruksi. Pemerintah Filipina diperkirakan akan memperketat inspeksi proyek-proyek gedung bertingkat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Bagi dunia konstruksi, insiden ini menjadi pengingat bahwa kelalaian sekecil apa pun dalam perencanaan, material, maupun pengawasan dapat berujung pada bencana yang merenggut banyak nyawa.