DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON DC-Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin geger geopolitik dunia.Trump mengatakan dirinya akan berbicara langsung dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te,sebuah langkah yang bisa memicu kemarahan besar dari China.

Dilansir The Guardian, pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Joint Base Andrews, Maryland, sebelum menaiki Air Force One.

“Saya akan berbicara dengannya. (Lai Ching-te) Saya bicara dengan semua orang. Kita akan urus masalah Taiwan,” kata Trump.

Ucapan itu langsung menyita perhatian karena sejak Washington memindahkan pengakuan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979, presiden AS dan presiden Taiwan praktis tidak pernah berbicara langsung secara resmi.

Baca juga :  Generasi Rebahan Bikin Xi Jinping Pusing Tujuh Keliling

Ini menjadi kedua kalinya dalam sepekan Trump menyebut rencana berbicara dengan Lai Ching-te.

Sebelumnya banyak pihak mengira ucapan Trump setelah bertemu Xi Jinping di Beijing hanya salah bicara.

Namun kini Trump menegaskan kembali niat tersebut.

Sumber yang mengetahui persoalan itu mengatakan panggilan telepon kedua pemimpin memang belum dijadwalkan secara resmi.

Gedung Putih maupun Kedutaan Besar China di Washington juga belum memberikan komentar.

Langkah Trump berpotensi memperburuk hubungan Washington-Beijing yang sudah panas akibat perang dagang, isu Taiwan, hingga konflik Laut China Selatan.

Baca juga :  Harga BBM AS Tembus Rekor Tertinggi Sejak 2022, Efek Gejolak Selat Hormuz

China selama ini menganggap Taiwan bagian dari wilayahnya dan tidak pernah menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk merebut pulau tersebut.

Beijing juga terus marah atas dukungan militer AS kepada Taiwan.

Meski begitu, Trump mengirim sinyal abu-abu kepada Taipei.

Di satu sisi, ia disebut telah menyetujui penjualan senjata lebih banyak ke Taiwan dibanding presiden AS lain.

Namun di sisi lain, Trump juga menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai “alat negosiasi yang sangat bagus”.

Bahkan setelah kunjungannya ke Beijing pekan lalu, Trump mengaku belum memutuskan apakah akan melanjutkan penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS ke Taiwan.

Baca juga :  Perang Iran Bikin Toyota Rugi Rp60 Triliun, Harga Material dan Penjualan Terpukul

Pernyataan Trump soal “masalah Taiwan” juga dianggap sensitif karena menggunakan istilah yang selama ini sering dipakai Beijing.

Presiden Taiwan Lai Ching-te sendiri menyambut peluang berbicara dengan Trump.

Ia menegaskan Taiwan ingin mempertahankan status quo dan menuding China yang justru mengganggu stabilitas kawasan lewat pembangunan militer besar-besaran.

“Tidak ada negara yang berhak mencaplok Taiwan,” kata Lai.

Taiwan memiliki posisi sangat strategis bagi AS.

Pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu merupakan salah satu mitra dagang terbesar Amerika Serikat dan pemasok utama semikonduktor canggih dunia.