DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK– Otoritas kesehatan di berbagai negara kini berlomba melacak puluhan penumpang yang turun dari kapal pesiar MV Hondius, pusat wabah mematikan hantavirus, sebelum langkah isolasi resmi diterapkan. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional, meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan wabah tersebut tidak akan berkembang menjadi pandemi seperti Covid-19.

Untuk pertama kalinya terungkap pada Kamis (7/5/2026) kemarin, sebanyak 29 penumpang dari 12 negara diketahui turun dari kapal pada 24 April 2026, hanya beberapa saat setelah kematian pertama terjadi di atas kapal. Sejak itu, otoritas kesehatan internasional berupaya menelusuri pergerakan mereka yang telah kembali ke berbagai negara.

Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menepis kekhawatiran bahwa wabah tersebut akan berubah menjadi krisis global. “Ini bukan awal dari epidemi. Ini bukan awal dari pandemi. Ini bukan Covid,” kata Van Kerkhove kepada wartawan seperti yang dilansir The Guardian,Jumat (8/5/2026.

WHO menyebutkan, lima dari delapan kasus dugaan yang terkait dengan kapal itu telah dikonfirmasi positif. Organisasi tersebut juga mengingatkan kemungkinan munculnya kasus baru masih terbuka lebar mengingat masa inkubasi virus Andes hantavirus dapat mencapai enam minggu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan situasi tersebut memang serius, namun risiko kesehatan publik secara global masih dinilai rendah.

“Dengan masa inkubasi virus Andes yang bisa mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan. Meski ini insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat tetap rendah,” ujar Tedros dalam konferensi pers.

Sejauh ini, wabah tersebut telah menewaskan tiga orang dan memicu alarm peringatan di berbagai negara. Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditemukan pada hewan pengerat, namun dapat menular ke manusia dan menyebabkan gejala mirip flu, sindrom paru, hingga gagal napas. Andes hantavirus diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak sangat dekat, meski tingkat penularannya jauh lebih rendah dibanding Covid-19. Hingga kini belum tersedia vaksin untuk virus tersebut.

Baca juga :  14 Orang Tewas Tiap Jam, TBC Jadi Pembunuh Senyap di Indonesia

Tiga pasien bergejala yang telah dievakuasi medis kini dirawat di Belanda, yakni seorang dokter berusia 41 tahun, seorang penumpang asal Jerman berusia 65 tahun, dan pemandu ekspedisi asal Inggris, Martin Anstee, 56 tahun.

Kementerian Kesehatan Belanda juga mengungkap seorang perempuan yang tidak berada di kapal sedang menjalani pemeriksaan karena menunjukkan gejala infeksi hantavirus. Perempuan itu dirawat di ruang isolasi rumah sakit Amsterdam. Jika hasil tesnya positif, ia akan menjadi orang pertama di luar MV Hondius yang tertular dalam rangkaian wabah ini.

Perusahaan operator kapal asal Belanda, Oceanwide Expeditions, menyatakan sebanyak 29 orang termasuk jenazah korban pertama — turun di wilayah Saint Helena milik Inggris pada 24 April. Namun kasus hantavirus pertama baru dikonfirmasi pada 4 Mei. Mayoritas penumpang yang turun diyakini telah kembali ke negara masing-masing, termasuk enam warga Amerika Serikat dan tujuh warga Inggris.

Seorang penumpang asal Spanyol yang masih berada di kapal menggambarkan bagaimana para penumpang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia.

“Warga Australia kembali ke Australia, penumpang dari Taiwan pulang ke Taiwan, orang-orang Amerika tersebar ke berbagai wilayah Amerika Utara, warga Inggris kembali ke Inggris, dan orang Belanda pulang ke rumah mereka,” katanya kepada surat kabar El País.

Di Swiss, seorang pria yang sempat bepergian ke Zurich kini menjalani perawatan setelah dinyatakan positif. Otoritas Swiss menegaskan tidak ada ancaman bagi masyarakat umum. Sementara di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memantau penumpang yang kembali ke Georgia, California, dan Arizona. Hingga kini belum ada yang menunjukkan gejala sakit.

Baca juga :  Waspada! Penyakit Liver MSLD Diam-Diam Ancam 1,8 Miliar Orang di 2050

Di Inggris, dua penumpang yang menjalani isolasi mandiri di rumah dilaporkan belum mengalami gejala apa pun. Kepala ilmuwan Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), Robin May, menyebut para penumpang kemungkinan diminta menjalani isolasi selama 45 hari.

“Bagi masyarakat umum yang tidak terkait langsung dengan kapal pesiar ini, risikonya sangat kecil,” kata May.

Sementara itu, dua warga Singapura yang berada di MV Hondius telah diisolasi dan menjalani tes. Otoritas Denmark juga menyebut seorang warga negaranya yang ikut pelayaran kini melakukan karantina mandiri tanpa gejala.

Di tengah upaya pelacakan penumpang, MV Hondius yang masih membawa 149 orang meninggalkan perairan Tanjung Verde setelah ditolak bersandar dan kini menuju Tenerife di Kepulauan Canary, Spanyol. Kapal diperkirakan tiba pada Minggu siang waktu setempat.

Presiden Kepulauan Canary, Fernando Clavijo, menyuarakan kekhawatiran atas keputusan pemerintah pusat Spanyol yang mengizinkan kapal memasuki wilayah Canary. Ia bahkan meminta pertemuan dengan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez.

Namun Menteri Kesehatan Spanyol, Mónica García, menegaskan kapal tidak akan bersandar di pelabuhan dan hanya akan tetap berlabuh di laut.

“Penumpang akan diperiksa di atas kapal dan hanya turun untuk proses transfer atau repatriasi dengan perlengkapan pelindung serta pengawasan tenaga kesehatan khusus, tanpa kontak dengan masyarakat,” ujar García.

Negara-negara Uni Eropa dijadwalkan mulai mengevakuasi warganya dari Kepulauan Canary pada 11 Mei. Sebanyak 14 warga Spanyol di kapal, termasuk satu awak, akan dipindahkan ke Rumah Sakit Militer Gómez Ulla di Madrid.

Baca juga :  WHO Selidiki Asal Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Satu Jenazah Masih di Atas Kapal

MV Hondius sendiri memulai pelayaran dari Ushuaia, Argentina selatan, pada 1 April 2026. Kapal ekspedisi kutub itu sempat singgah di Antartika dan sejumlah pulau terpencil di Samudra Atlantik.

Korban pertama diketahui merupakan pria Belanda berusia 70 tahun yang mulai menunjukkan gejala pada 6 April sebelum meninggal lima hari kemudian. Saat itu kematiannya dianggap sebagai penyebab alami sehingga tidak menimbulkan alarm. Jenazahnya kemudian diturunkan di Saint Helena pada 24 April.

Istrinya yang berusia 69 tahun sempat terbang ke Afrika Selatan dan transit di Johannesburg sebelum dipindahkan untuk menjalani perawatan. Ia kemudian meninggal dunia. Seorang pramugari KLM yang sempat kontak dengannya kini dirawat di ruang isolasi Amsterdam karena menunjukkan gejala kemungkinan infeksi.

WHO menyatakan pelacakan kontak dilakukan terhadap para penumpang yang berada dalam penerbangan bersama korban dari Saint Helena. Sementara jenazah seorang penumpang asal Jerman yang mengalami demam pada 28 April dan meninggal pada 2 Mei masih berada di kapal.

Salah satu teori yang berkembang menyebut wabah mungkin berkaitan dengan kegiatan pengamatan burung di Argentina yang diikuti pasangan Belanda tersebut sebelum naik kapal. Argentina sendiri tercatat sebagai negara dengan angka kasus hantavirus tertinggi di Amerika Latin. Sejak Juni 2025, negara itu melaporkan 101 kasus infeksi, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kementerian Kesehatan Argentina menyatakan akan melakukan penangkapan dan analisis tikus di Ushuaia, titik awal pelayaran MV Hondius.