DIKSIMERDEKA.COM LONDON- Dunia lagi-lagi dihadapkan pada ancaman kesehatan yang tak terlihat, tapi dampaknya bisa mematikan. Penyakit hati yang selama ini sering dianggap sepele, ternyata diam-diam berkembang jadi bom waktu global.

Namanya metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yang sebelumnya dikenal sebagai non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Penyakit ini kini disebut sebagai salah satu kondisi hati paling umum dan paling cepat meningkat di dunia.

Sebuah studi global mengungkap, penyakit ini diperkirakan akan menyerang sekitar 1,8 miliar orang pada 2050. Lonjakannya bukan main.

Saat ini saja, jumlah penderitanya sudah mencapai 1,3 miliar orang di seluruh dunia. Itu berarti sekitar satu dari enam orang atau 16 persen populasi global sudah terpapar.

Dalam laporan penelitian disebutkan bahwa, “MASLD merupakan salah satu penyakit hati paling umum dan paling cepat berkembang secara global.”tulis Media Inggris The Guardian dalam laporannya, Selasa 14/4/2026).

Baca juga :  Waspada! Hantavirus dari Tikus Bisa Berujung Gagal Napas

Lonjakan ini juga terlihat jelas dalam perjalanan waktu. Pada 1990, jumlah kasus masih sekitar 500 juta orang. Namun pada 2023, angka itu melonjak menjadi 1,3 miliar orang.

Penelitian tersebut mencatat, “Jumlah penderita MASLD meningkat 143 persen dalam tiga dekade terakhir.”


Gaya Hidup Jadi Biang Kerok

Penyebab utama peningkatan ini bukan virus atau infeksi, melainkan gaya hidup.

Peneliti menegaskan bahwa, “Prevalensi kondisi ini diproyeksikan akan terus meningkat, terutama didorong oleh pertumbuhan populasi global serta perubahan gaya hidup seperti meningkatnya obesitas dan kadar gula darah tinggi.”

Faktor gula darah tinggi disebut sebagai penyebab utama gangguan kesehatan terkait MASLD, diikuti oleh indeks massa tubuh (BMI) tinggi dan kebiasaan merokok.


Banyak yang Kena, Tapi Tak Sadar

Yang bikin makin mengkhawatirkan, penyakit ini sering tidak menunjukkan gejala.

Baca juga :  Wabah Ebola Mengganas di Kongo, 65 Orang Tewas

Dalam penjelasan layanan kesehatan Inggris disebutkan, “Penyakit ini biasanya tidak menimbulkan gejala, dan banyak orang mengalaminya tanpa menyadari.”

Jika pun muncul, gejalanya ringan.

“Gejala bisa berupa kelelahan ekstrem, merasa tidak sehat, serta nyeri atau ketidaknyamanan di bagian kanan perut di bawah tulang rusuk,” demikian disebutkan.

Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi saat pasien menjalani pemeriksaan untuk penyakit lain.


💣 Ancaman Serius di Masa Depan

Meski banyak kasus masih berada di tahap awal, risikonya tidak bisa diremehkan.

Penelitian memperingatkan bahwa semakin banyak penderita berarti semakin besar potensi komplikasi di masa depan.

Mulai dari sirosis hati hingga kanker hati.

Peneliti menegaskan bahwa, “Peningkatan jumlah kasus menunjukkan pentingnya menjadikan MASLD sebagai prioritas kesehatan global serta perlunya kebijakan, kampanye kesadaran, dan intervensi untuk mengurangi dampaknya.”

Baca juga :  Belajar Dari Vidi Aldiano,Kanker Ginjal Kini Serang Gen-Z, Dokter: Jangan Tunggu Gejala!

Usia Produktif Ikut Terkena

Yang mengejutkan, penyakit ini tidak hanya menyerang lansia.

Justru banyak ditemukan pada usia produktif.

Kelompok usia 35–39 tahun pada pria dan 55–59 tahun pada wanita menjadi yang paling banyak terdampak.

Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa pola hidup modern telah mengubah peta penyakit global.


Dunia Diminta Siaga

Meski dampak kesehatan secara keseluruhan masih relatif stabil karena kemajuan pengobatan, jumlah kasus yang terus meningkat tetap menjadi alarm keras.

Para peneliti menilai bahwa tren ini menunjukkan perubahan besar dalam pola kesehatan masyarakat dunia.


MASLD bukan penyakit biasa. Ia datang tanpa gejala, berkembang perlahan, tapi berpotensi mematikan. Dan jika tren ini tidak dikendalikan, dunia bukan hanya menghadapi krisis kesehatan tetapi juga krisis gaya hidup.