DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA Jangan anggap remeh TBC. Penyakit yang sering dianggap “biasa” ini ternyata membunuh diam-diam—bahkan lebih mematikan dari yang dibayangkan.

Data menunjukkan, Tuberkulosis (TBC) menewaskan sekitar 12–14 orang setiap jam di Indonesia. Angkanya bikin merinding.

Indonesia bahkan duduk di peringkat kedua dunia dengan estimasi 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian tiap tahun. Angka ini justru meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Lebih Bahaya dari yang Dikira

Dosen Fakultas Kedokteran UGM sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, mengingatkan bahaya TBC sering diremehkan.

“Ini sama bahayanya dengan COVID. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” ujarnya.

Padahal, tingginya angka kematian menunjukkan TBC masih jadi masalah serius.

Menurutnya, lonjakan kasus juga bisa jadi tanda bahwa deteksi kini makin baik.

Baca juga :  Besok, PeduliLindungi Resmi Berganti

“Peningkatan angka kasus tersebut juga dapat mencerminkan semakin membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi,” jelasnya.

Gejala Datang Terlambat, Penularan Jalan Terus

Masalahnya, TBC bukan penyakit yang langsung terasa.

Gejala baru muncul 4–12 minggu setelah seseorang tertular.

“Kondisi inilah yang kemudian memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat,” terangnya.

Akibatnya, banyak pasien datang sudah dalam kondisi parah.

Stigma Jadi Musuh Besar

Selain faktor medis, masalah sosial juga jadi penghambat.

Masih banyak orang takut periksa karena stigma.

“Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” imbuhnya.

Bahkan, ada yang takut kehilangan pekerjaan jika diketahui mengidap TBC.

Jurus: Cari, Obati, Cegah

Untuk melawan TBC, Rina menekankan strategi “search, treat, and prevent”.

Baca juga :  Kemenkes Akan Kuatkan Posyandu untuk Pencegahan dan Deteksi Dini

Mulai dari:

  • Penemuan kasus aktif
  • Pengobatan sampai tuntas
  • Pencegahan bagi kelompok berisiko

“Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” pesannya.

Inovasi Kemenkes Mulai Jalan

Rina juga mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan.

Salah satunya penggunaan rontgen portable untuk mendeteksi kasus TBC di lapangan.

“Saya kira ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Desa Jadi Garda Depan

Pemerintah kini menggerakkan desa sebagai ujung tombak perang melawan TBC.

Baca juga :  Kemenkes Wajibkan Label Gula pada Boba & Kopi Gula Aren, Ini Dampaknya

Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menegaskan peran penting daerah.

“Pemerintah daerah menjadi penggerak utama dalam mengoordinasikan penanggulangan TB hingga ke tingkat desa dan kelurahan,” ujarnya.

Namun faktanya, dari 84.276 desa di Indonesia, baru sekitar 5.711 desa yang menjadi Desa Siaga TB.

Artinya? Perang masih panjang.

“Desa dan kelurahan menjadi ujung tombak dalam menemukan kasus, mendampingi pasien, dan menggerakkan masyarakat untuk bersama melawan TB,” tegasnya.

Media dan Masyarakat Harus Bergerak

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin P. Octavianus menekankan pentingnya kolaborasi.

“Peran media sangat strategis dalam mendorong masyarakat untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan hingga tuntas,” pungkasnya.

Jangan Tunggu Parah!

Pesan tegas: jangan anggap sepele batuk lebih dari dua minggu.

Segera periksa.

TBC bisa sembuh—asal cepat ditangani.