“Kami bukan sekadar headline berita. Kami adalah manusia, punya keluarga, punya kehidupan, dan orang-orang yang menunggu kami pulang.”
(Jake Rosmarin, Penumpang MV Hondius)

DIKSIMERDEKA.COM CAPE VERDE-Kapal pesiar mewah MV Hondius kini masih terkatung-katung di lepas pantai Cape Verde setelah dugaan wabah hantavirus menyerang penumpang dan kru kapal. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut sedikitnya tujuh kasus terkonfirmasi maupun suspek ditemukan di kapal yang membawa 149 orang dari 23 negara itu. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia.

Dilansir The Guardian, seorang kru asal Inggris dilaporkan membutuhkan penanganan medis darurat, sementara seorang penumpang warga Inggris lainnya berada dalam kondisi kritis namun stabil. Situasi darurat kesehatan ini mencuat setelah WHO pada Minggu (3/5) malam lalu menyatakan tengah menyelidiki dugaan wabah hantavirus di atas kapal pesiar berbendera Belanda tersebut.

MV Hondius berangkat dari Argentina selatan pada Maret lalu untuk pelayaran panjang melintasi Samudra Atlantik dan Antartika. Namun pelayaran itu berubah menjadi krisis kesehatan ketika sejumlah penumpang jatuh sakit. Kapal akhirnya tertahan di dekat Cape Verde setelah otoritas setempat menolak memberikan izin sandar demi melindungi kesehatan publik nasional.

Baca juga :  WHO Konfirmasi 7 Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Evakuasi Darurat Dikebut

WHO menyatakan hingga Senin, 4 Mei 2026 terdapat dua kasus hantavirus yang telah dikonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek. Dari jumlah itu, tiga orang meninggal dunia, satu pasien berada dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya mengalami gejala ringan. Penyakit ini umumnya berasal dari tikus dan hewan pengerat lain melalui urin atau kotoran yang terinfeksi. Dalam kondisi berat, hantavirus dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga kematian.

Korban meninggal pertama adalah warga Belanda yang wafat pada 11 April. Operator kapal, Oceanwide Expeditions, mengatakan penyebab kematian saat itu belum diketahui ketika korban masih berada di kapal. Beberapa hari kemudian, istrinya yang juga warga Belanda dilaporkan jatuh sakit saat transit di Afrika Selatan dalam perjalanan pulang ke negaranya. Perempuan berusia 69 tahun itu kemudian meninggal di rumah sakit dekat bandara.

Pada 27 April, seorang warga Inggris yang berada di kapal mengalami kondisi serius dan harus dievakuasi ke Johannesburg, Afrika Selatan. Ia kini dirawat di unit perawatan intensif. Operator kapal mengatakan varian hantavirus telah teridentifikasi pada pasien tersebut. Korban meninggal ketiga adalah warga Jerman yang wafat pada 2 Mei.

Baca juga :  14 Orang Tewas Tiap Jam, TBC Jadi Pembunuh Senyap di Indonesia

Dua kru kapal lainnya, masing-masing berkewarganegaraan Inggris dan Belanda, juga mengalami gejala pernapasan akut. Salah satunya disebut berada dalam kondisi berat dan membutuhkan perawatan medis segera. Meski demikian, operator kapal menyatakan infeksi hantavirus pada kedua kru itu belum terkonfirmasi dan hubungan kasus mereka masih dalam penyelidikan.

Di tengah ketidakpastian, seorang travel blogger asal Amerika Serikat yang berada di kapal, Jake Rosmarin, mengunggah video emosional di media sosial. Ia menggambarkan suasana penuh kecemasan yang dirasakan para penumpang.

“Kami bukan sekadar headline berita: kami adalah manusia. Manusia yang punya keluarga, punya kehidupan, dan orang-orang yang menunggu kami pulang di rumah. Ada begitu banyak ketidakpastian, dan itulah yang paling berat.” kata Rosmarin.

Rosmarin mengatakan ketidakjelasan mengenai nasib para penumpang menjadi bagian paling berat selama kapal tertahan di laut.

Baca juga :  Wabah Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Kapal Pesiar MV Hondius Bergerak ke Spanyol

Otoritas kesehatan Cape Verde menyatakan pihaknya kini berkoordinasi dengan pemerintah Belanda dan Inggris terkait penanganan kapal tersebut. Mereka juga membuka kemungkinan evakuasi medis menggunakan ambulans udara bagi pasien yang membutuhkan pengawasan intensif.

Oceanwide Expeditions mempertimbangkan membawa kapal menuju Kepulauan Canary di Spanyol, seperti Las Palmas atau Tenerife, untuk pemeriksaan medis lebih lanjut dan proses penanganan penumpang. Perusahaan juga tengah mengatur pemulangan dua kru yang sakit bersama jenazah salah satu korban meninggal.

Institut Nasional Kesehatan Publik Belanda atau RIVM mengatakan sumber penularan masih belum diketahui. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan adanya tikus di kapal atau penularan yang terjadi ketika kapal singgah di Amerika Selatan.

WHO menegaskan risiko penyebaran ke masyarakat luas masih rendah dan belum ada alasan untuk menerapkan pembatasan perjalanan internasional. Namun otoritas kesehatan Afrika Selatan kini melakukan pelacakan kontak di sekitar Johannesburg untuk memastikan tidak ada penyebaran lanjutan dari penumpang yang terinfeksi