DIKSIMERDEKA.COM WINA-Di balik megahnya gedung diplomatik di jantung Wina, tersembunyi jaringan antena yang diduga diam-diam “menguping” dunia. Austria pun bergerak cepat tiga diplomat Rusia diusir setelah muncul dugaan spionase canggih yang memanfaatkan kedutaan sebagai pusat pengumpulan data rahasia.

Pemerintah Austria mengusir tiga staf kedutaan Rusia di Wina setelah mencurigai adanya aktivitas spionase melalui instalasi “hutan antena” di kompleks diplomatik tersebut. Otoritas menilai fasilitas itu digunakan untuk pengumpulan data secara ilegal.

Menteri Luar Negeri Austria, Beate Meinl-Reisinger, menegaskan penggunaan kekebalan diplomatik untuk kegiatan spionase tidak dapat diterima.

“Tidak dapat diterima bahwa kekebalan diplomatik digunakan untuk melakukan spionase,” ujarnya pada Senin. Ia menambahkan ketiga staf tersebut telah meninggalkan Austria. Seperti yang dilansir The Guardian, Selasa (5/5/2026).

Baca juga :  Kagumi Kearifan Lokal, DWP KBRI Pretoria Manfaatkan Kain Shwe-Shwe Untuk Kerajinannya

Menurut Meinl-Reisinger, langkah ini merupakan bagian dari kebijakan tegas pemerintah dalam menangani aktivitas intelijen asing.

“Kami telah menyampaikan hal ini kepada pihak Rusia secara tegas, termasuk terkait ‘hutan antena’ di misi Rusia,” katanya. “Spionase memang menjadi masalah bagi Austria, namun pemerintah kini mengambil arah baru dan bertindak secara konsisten.”

Sejak 2020, Austria telah mengusir total 14 diplomat Rusia terkait dugaan aktivitas serupa.

Pihak Kedutaan Besar Rusia di Wina mengecam keputusan tersebut. Mereka menyebut langkah Austria sebagai tindakan yang tidak berdasar dan bermotif politik.

“Keputusan ini sangat keterlaluan, tidak berdasar, bermotif politik, dan sama sekali tidak dapat diterima,” kata pihak kedutaan, seraya memperingatkan akan ada balasan keras.

Baca juga :  Trump Keras soal Proposal Damai Iran, Sebut Teheran “Belum Bayar Harga yang Cukup”

Laporan media publik Austria menyebut perangkat di atap gedung kedutaan diduga digunakan untuk menyadap data dari organisasi internasional yang beroperasi di Wina. Kota ini memang menjadi markas sejumlah lembaga global, seperti Organization of the Petroleum Exporting Countries, International Atomic Energy Agency, dan Organization for Security and Co-operation in Europe.

Selama bertahun-tahun, Wina dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas intelijen dunia. Celah hukum di Austria memungkinkan agen asing beroperasi selama tidak secara langsung menargetkan kepentingan nasional negara tersebut.

“Pilihan hukum yang sangat terbatas untuk melawan spionase menyebabkan tingginya aktivitas intelijen asing di negara ini,” demikian pengakuan badan intelijen domestik Austria dalam laporan tahunannya.

Tekanan untuk memperketat aturan meningkat sejak penangkapan mantan pejabat kontraintelijen Austria, Egisto Ott, pada 2024. Ia diduga membocorkan informasi kepada intelijen Rusia dalam salah satu kasus spionase terbesar di Austria dalam beberapa dekade.

Baca juga :  AS “Melunak”? Kapal Tanker Rusia Diizinkan Masuk Kuba, Blokade Mulai Retak

Ott dituduh membantu Rusia melacak lawan politik Presiden Vladimir Putin serta menyerahkan perangkat pemerintah berisi data sensitif. Ia membantah seluruh tuduhan tersebut.

Kasus ini juga menyeret nama Jan Marsalek, mantan eksekutif Wirecard yang buron dan diduga memiliki hubungan dengan intelijen militer Rusia.

Pemerintah Austria kini tengah menyiapkan regulasi baru untuk menutup celah hukum dan memperluas definisi spionase, termasuk aktivitas yang menargetkan Uni Eropa dan organisasi internasional yang berbasis di Wina.

Langkah ini menandai perubahan sikap Austria dalam menghadapi meningkatnya ancaman spionase di tengah ketegangan geopolitik global.