Masuki Musim Kemarau, Distan Bali Targetkan Luas Panen Sawah 124 Ribu Hektare
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali menargetkan luas panen sawah pada musim tanam (MT) II tahun 2026 mencapai lebih dari 124 ribu hektare. Target tersebut dipatok meski Bali diprediksi menghadapi musim kemarau panjang dengan puncak kekeringan pada September mendatang.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan luas tanam padi tahun 2026 ditargetkan mencapai 144 ribu hektare. Angka itu turun dibandingkan target tahun 2025 yang mencapai 155 ribu hektare.
Meski demikian, Pemprov Bali optimistis luas panen tetap bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan dari capaian tahun lalu.
“Kalau tahun 2025 luas panen kita 124 ribu hektare. Tahun ini mudah-mudahan masih sama, bahkan kalau bisa lebih tinggi dari tahun kemarin,” kata Sunada saat ditemui, Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, Sunada mengatakan, dalam rangka mengantisipasi musim kemarau panjang tahun ini, pemerintah daerah telah menyiapkan strategi. Diantaranya optimalisasi lahan dengan sistem irigasi teknis yang memungkinkan indeks pertanaman tiga kali setahun atau IP3.
“Kalau sawah dengan irigasi teknis bagus, kita bisa laksanakan IP3 atau tanam tiga kali setahun. Begitu selesai panen, maksimal 15 hari langsung olah lahan dan tanam lagi,” ujarnya.
Menurutnya, percepatan masa tanam kini lebih memungkinkan karena petani telah menggunakan alat mekanisasi seperti traktor, sehingga proses pengolahan lahan tidak lagi manual dan memakan waktu lama.
Selain mengoptimalkan sawah beririgasi teknis, pemerintah daerah juga memaksimalkan lahan tadah hujan melalui bantuan sarana pendukung.
“Kami sudah memberikan bantuan sumur bor dalam, irigasi perpompaan, serta perbaikan saluran irigasi. Pendanaannya dari pemerintah pusat dan dikerjakan bertahap tahun ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sunada mengatakan dengan target luasan panen tersebut, Pemerintah Provinsi Bali optimistis dapat kembali mencatat surplus beras pada 2026.
Pada 2025, Bali tercatat surplus beras sebesar 62 ribu ton. Tahun ini, Pemprov Bali menargetkan surplus meningkat menjadi sekitar 70 ribu ton.
“Target kita naik menjadi sekitar 70 ribu ton. Di tengah pertumbuhan penduduk, peningkatan kunjungan wisatawan, dan alih fungsi lahan pertanian, Bali harus tetap mampu menjaga surplus pangan,” tegas Sunada.
Selain optimalisasi sawah, peningkatan produksi padi juga didorong melalui program padi gogo atau budidaya padi lahan kering yang dikembangkan di Kabupaten Karangasem.
“Tidak hanya di sawah, kami juga mengembangkan padi gogo di lahan kering, khususnya di Karangasem,” ujarnya.
Sunada menambahkan, Kabupaten Tabanan masih menjadi daerah penyumbang produksi padi terbesar di Bali dan diharapkan tetap menjadi penopang utama dalam pencapaian target panen tahun ini.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan