Menelusuri Jejak LSD di Jembrana, Tim Gabungan Sisir Desa Demi Cegah Wabah Meluas
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali bergerak cepat menelusuri kasus Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang sapi dan kerbau di Kabupaten Jembrana. Melalui penelusuran lapangan intensif, tim gabungan diterjunkan ke sejumlah desa untuk memetakan sebaran penyakit sekaligus memutus rantai penularan agar tidak meluas ke wilayah lain di Bali.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Sunada, mengatakan investigasi lapangan dilakukan segera setelah hasil uji laboratorium nasional memastikan adanya ternak positif LSD. Hingga Kamis (15/1/2026), tercatat 28 ekor sapi dan kerbau terkonfirmasi terinfeksi, dengan dua ekor di antaranya mati.
Penelusuran difokuskan pada desa-desa yang dilaporkan memiliki ternak bergejala, yakni Desa Baluk, Kaliakah, Banyubiru, Berangbang, dan Manistutu. Di lokasi tersebut, tim melakukan pemeriksaan klinis, pendataan populasi ternak, hingga penelusuran riwayat lalu lintas hewan yang diduga menjadi pintu masuk virus LSD ke Bali.
“Begitu hasil laboratorium keluar, kami langsung turun ke lapangan. Fokus kami adalah mengetahui pola penyebaran dan sumber penularan agar penanganan tepat sasaran,” ujar Sunada, Kamis (15/1/25).
Dari hasil penelusuran, pemerintah menetapkan langkah pemotongan bersyarat terhadap ternak yang positif terinfeksi sebagai bagian dari pengendalian darurat. Langkah ini disertai pengawasan ketat untuk memastikan tidak ada pergerakan ternak berisiko keluar dari zona terdampak.
Seiring investigasi berjalan, Pemprov Bali juga menerapkan lockdown lalu lintas ternak di Jembrana selama enam bulan. Kebijakan ini diambil berdasarkan temuan lapangan yang mengindikasikan kuatnya dugaan masuknya virus melalui pergerakan ternak ilegal dari luar daerah.
Selain itu, tim di lapangan memperkuat biosekuriti dengan penyemprotan disinfektan di kandang dan lingkungan sekitar. Upaya ini penting mengingat virus LSD dapat menyebar melalui vektor serangga penghisap darah, terutama lalat.
Penelusuran lapangan ini turut mendapat perhatian pemerintah pusat. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dijadwalkan turun langsung untuk melihat kondisi lapangan serta menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pendukung penanganan LSD.
Pemprov Bali menegaskan, hasil penelusuran lapangan menjadi dasar utama dalam setiap kebijakan pengendalian. Masyarakat dan peternak diimbau aktif melaporkan jika menemukan gejala serupa pada ternak, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Melalui penyisiran lapangan yang menyeluruh, pemerintah berharap kasus LSD di Jembrana dapat segera dikendalikan, sekaligus melindungi populasi ternak di seluruh Bali dari ancaman wabah.

Tinggalkan Balasan