Ratusan Pendaki Terjebak di Everest, Es Raksasa Ancam Jalur Puncak
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Pendakian Gunung Everest kembali terganggu. Bongkahan es raksasa yang tidak stabil di jalur menuju puncak memaksa ratusan pendaki dan pemandu lokal menunda perjalanan mereka.
Ratusan pendaki dari berbagai negara kini tertahan di base camp Gunung Everest. Penyebabnya, sebuah blok es besar atau serac yang berada di jalur antara base camp dan camp satu dinilai sangat berbahaya.
Pejabat Departemen Pariwisata Nepal, Himal Gautam, menyebut kondisi es tersebut tidak stabil dan berisiko tinggi bagi keselamatan pendaki.
Tim otoritas setempat kini bekerja sama dengan operator ekspedisi untuk memantau situasi. Para pendaki pun diminta menunggu hingga kondisi dinyatakan aman.
Musim pendakian musim semi tahun ini cukup ramai. Tercatat, sebanyak 410 pendaki asing telah mengantongi izin untuk mencoba mencapai puncak Everest sebelum akhir Mei.
Biasanya, jalur pendakian sudah dipersiapkan sejak pertengahan April oleh tim khusus yang dikenal sebagai “icefall doctors”. Mereka bertugas memasang tali dan tangga aluminium untuk membantu pendaki melintasi celah es.
Namun kali ini, kondisi berbeda. Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha berencana melakukan survei udara untuk mengevaluasi kondisi serac tersebut.
Ketua komite, Lama Kazi Sherpa, mengatakan risiko longsoran es sangat tinggi. Pihaknya memilih menunggu hingga bongkahan es tersebut mencair secara alami ke tingkat yang lebih aman.
Zona Paling Berbahaya
Serac tersebut merupakan bagian dari Khumbu Icefall—salah satu bagian paling berbahaya dalam pendakian Everest.
Area ini dikenal memiliki celah es dalam dan bongkahan es raksasa yang bisa runtuh sewaktu-waktu, bahkan sebesar gedung 10 lantai.
Sejarah mencatat, kawasan ini pernah menjadi lokasi tragedi besar.
Pada 2014, longsoran es di Khumbu Icefall menewaskan 16 pemandu Sherpa. Peristiwa itu menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Everest.
Menunggu Waktu Tepat
Meski tertunda, ratusan pendaki tetap bersiap.
Diperkirakan, upaya menuju puncak akan kembali dilakukan dalam beberapa minggu ke depan, saat jendela cuaca membaik.
Gunung Everest sendiri memiliki ketinggian 8.849 meter dan pertama kali ditaklukkan pada 29 Mei 1953 oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.
Pendakian Everest selalu penuh risiko. Dan kali ini, alam kembali mengingatkan—bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama di atap dunia.

Tinggalkan Balasan