DIKSIMERDEKA.COM BANDUNG, – Fenomena langka akan terjadi di langit Indonesia pada 26 April 2026. Asteroid Strenua diprediksi melintas di depan bintang jauh dan “menghilangkan” cahayanya selama beberapa detik.

Momen singkat ini justru menjadi peluang besar bagi ilmuwan dan pengamat langit di Indonesia untuk berkontribusi dalam riset astronomi global.

Fenomena Okultasi Asteroid yang Langka

Fenomena ini terungkap saatObservatorium Bosscha menggelar kolokium astronomi untuk mempersiapkan pengamatan fenomena okultasi asteroid yang akan terjadi pada 26 April 2026.

Baca juga :  Langka! Komet 170 Ribu Tahun Sekali Muncul, Kini Melintas di Langit Bumi Selatan

Fenomena ini terjadi ketika asteroid melintas di depan bintang, menyebabkan cahaya bintang tersebut meredup atau hilang sementara.

Indonesia Jadi Jalur Strategis

Asteroid Strenua diprediksi melintasi jalur yang mencakup:

  • Sumatera
  • Jawa
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • hingga Australia

Artinya, Indonesia menjadi salah satu lokasi penting untuk pengamatan fenomena ini.


Durasi Singkat, Data Sangat Berharga

Fenomena ini hanya berlangsung beberapa detik, namun memiliki nilai ilmiah tinggi.

Baca juga :  benda terbang misterius Gegerkan Warga Lampung & Sumsel , Diduga Meteor atau Sampah Antariksa?

“Semakin banyak titik pengamatan, semakin akurat informasi yang diperoleh,” ujar peneliti Bosscha, Agus Triono.

Data dari pengamatan ini dapat digunakan untuk:

  • mengukur diameter asteroid
  • menentukan bentuk
  • memetakan orbit
  • memahami karakter termofisika

🛰️ Bisa Diamati dengan Teleskop Kecil

Menariknya, fenomena ini tidak membutuhkan alat canggih.

Pengamatan dapat dilakukan dengan:

  • teleskop kecil
  • teknik fotometri cepat
  • kamera berkecepatan tinggi

Hal ini membuka peluang luas bagi komunitas astronomi dan pengamat amatir di Indonesia.

Baca juga :  Koster: Ukuran Pulau Cerdas Bukan Banyaknya Teknologi, tapi Kualitas Hidup Tanpa Kehilangan Identitas Budaya

⚠️ Tantangan Pengamatan

Meski menarik, fenomena ini memiliki tantangan:

  • terjadi sangat cepat
  • hanya terlihat di jalur tertentu
  • butuh koordinasi banyak lokasi

Karena itu, kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan pengamatan.


🤝 Bosscha Dorong Kolaborasi Nasional

Melalui kolokium ini, Observatorium Bosscha mengajak:

  • komunitas astronomi
  • observatorium
  • pengamat individu

untuk ikut berpartisipasi dalam pengamatan serentak.Fenomena ini bukan sekadar peristiwa langit, tetapi peluang langka bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam penelitian astronomi dunia.