Pakar Energi Sentil RI: Jangan Santai, Konflik Iran–Israel Bisa Ganggu BBM
DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA-Ketegangan antara Iran dan Israel kembali bikin pasar energi dunia deg-degan. Bukan cuma urusan geopolitik, tapi juga ancaman nyata buat pasokan energi global—terutama yang melintas di jalur super vital, Selat Hormuz.
Kalau jalur ini sampai terganggu, jangan heran kalau harga minyak dunia melonjak. Efeknya bisa menjalar sampai dapur rakyat. Indonesia pun ikut waspada, karena sebagian kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor.
Pakar energi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, mengingatkan bahwa situasi ini bukan sekadar konflik regional. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz bisa berdampak langsung pada ketahanan energi Indonesia.

“Dalam energi ada yang disebut trilema energi. Kita harus menjaga tiga hal sekaligus: keamanan pasokan, harga yang terjangkau, dan dampak lingkungan,” kata Rachmawan dalam diskusi Pojok Bulaksumur, Kamis (5/3).
Harga Minyak Naik, Alarm Sudah Bunyi
Rachmawan menilai tanda-tanda gangguan energi global sudah terlihat. Harga minyak dunia kini bergerak melewati asumsi harga dalam APBN. Itu artinya pasar sudah merespons risiko konflik di kawasan Timur Tengah.
“Kalau harga minyak sudah melampaui asumsi APBN, itu sinyal bahwa ancaman gangguan pasokan sudah di depan mata,” tegasnya.
Bukan cuma soal harga. Aktivitas pelayaran tanker juga mulai tersendat. Situasi keamanan membuat banyak kapal menunda perjalanan.
Sejumlah laporan menyebut 150 hingga 200 kapal tanker terpaksa berhenti sementara di jalur pelayaran energi dunia. Kondisi ini jelas bikin distribusi energi global terganggu.
“Kalau ratusan tanker berhenti, itu sudah menunjukkan ada masalah di sisi ketersediaan energi,” ujar Rachmawan.
RI Terlalu Bergantung Impor
Masalahnya, Indonesia masih sangat bergantung pada energi impor. Ketika jalur distribusi global terganggu, negara pengimpor seperti Indonesia otomatis kena dampaknya.
Rachmawan bahkan melontarkan peringatan keras.
“Menyerahkan pasokan energi ke negara lain itu seperti menyerahkan leher kita kepada orang lain,” sindirnya.
Karena itu pemerintah didorong segera mencari sumber pasokan alternatif. Diversifikasi impor minyak menjadi salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan.
Namun langkah ini bukan tanpa masalah. Jika Indonesia harus mengimpor minyak dari negara yang lebih jauh—misalnya dari Amerika—biaya logistik dan waktu pengiriman otomatis meningkat.
“Secara geografis jaraknya jauh, jadi waktu pengiriman dan biaya logistik juga lebih besar,” jelasnya.
Cadangan Energi RI Masih Tipis
Hal lain yang bikin waswas: cadangan minyak Indonesia masih sangat terbatas. Saat ini cadangan strategis nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari.
Bandingkan dengan Jepang yang bisa menyimpan cadangan energi hingga 200 hari.
Artinya, kalau terjadi krisis pasokan global, Indonesia tidak punya banyak waktu untuk bertahan.
“Cadangan kita masih sangat terbatas dibandingkan negara maju,” kata Rachmawan.
Saatnya Andalkan Energi Sendiri
Menurut Rachmawan, solusi jangka pendek seperti diversifikasi impor dan penambahan cadangan memang penting. Tapi itu belum cukup.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi domestik yang melimpah. Mulai dari panas bumi, bioenergi, hingga energi baru dan terbarukan lainnya.
Masalahnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.
Rachmawan mengingatkan, keputusan energi hari ini akan menentukan masa depan energi Indonesia.
“Kalau generasi sekarang salah mengambil keputusan energi, yang menanggung akibatnya bukan kita—tapi generasi masa depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan