IPB Ungkap Penyebab Angka Pernikahan di Indonesia Turun, Generasi Muda Pilih Karier dan Pendidikan
DIKSIMERDEKA.COM,BOGOR – Tren penurunan angka pernikahan di Indonesia terus menjadi perhatian kalangan akademisi. Peneliti dari IPB University menilai perubahan pola pikir generasi muda menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi fenomena ini.
Peneliti dan dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, mengatakan bahwa bagi generasi muda saat ini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai simbol prestise atau status sosial.
Menurutnya, banyak anak muda memilih menunda pernikahan untuk fokus pada pendidikan, karier, dan pengembangan diri.
“Pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama. Generasi muda cenderung fokus pada pendidikan, karier, dan pengalaman pribadi sebelum memutuskan untuk menikah,” ujarnya.
Faktor Ekonomi hingga Budaya
Risda menjelaskan, penurunan angka pernikahan dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi ekonomi hingga perubahan budaya.
Dari sisi ekonomi, meningkatnya biaya hidup dan ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda membangun rumah tangga.
“Kesulitan finansial, tingginya biaya hidup, dan ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda menikah. Padahal kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi salah satu prasyarat penting dalam membangun rumah tangga,” jelasnya.
Selain itu, masa pendidikan yang semakin panjang serta orientasi kuat pada pencapaian karier juga mendorong penundaan pernikahan di kalangan generasi muda.
Pengaruh Media Sosial
Perubahan norma sosial turut memberi dampak signifikan. Risda menyoroti mulai munculnya normalisasi hubungan non-pernikahan seperti kohabitasi di masyarakat.
Di sisi lain, narasi viral di media sosial seperti “marriage is scary” turut membentuk persepsi negatif terhadap pernikahan.
Gaya hidup modern yang menekankan kebebasan individu, konsumsi, dan pengalaman pribadi juga dinilai menggeser prioritas generasi muda dari pernikahan menuju karier, hobi, atau perjalanan.
Perkembangan teknologi dan tren kencan digital juga memunculkan fenomena “paradox of choice”, yaitu kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang semakin sulit berkomitmen.
Dampak Demografi
Risda mengingatkan, tren penurunan pernikahan berpotensi memengaruhi struktur demografi Indonesia dalam jangka panjang.
Saat ini total fertility rate (TFR) Indonesia tercatat sekitar 2,19, angka yang menunjukkan kecenderungan penurunan tingkat kelahiran.
Selain itu, tren tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko kesepian atau isolasi sosial pada usia lanjut.
Dari sisi kesehatan reproduksi, jika penurunan pernikahan terjadi bersamaan dengan meningkatnya hubungan seksual di luar pernikahan, risiko penularan penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS juga bisa meningkat.
Perlu Kebijakan Ramah Keluarga
Untuk merespons fenomena ini, Risda menilai penting membangun perspektif bahwa pernikahan merupakan tujuan hidup yang diinginkan, bukan sesuatu yang menakutkan.
Ia juga menekankan perlunya kebijakan publik yang ramah keluarga.
Menurutnya, pemerintah dapat mendorong keseimbangan kerja dan keluarga, menyediakan fasilitas perumahan bagi pasangan muda, memperluas lapangan kerja, serta memastikan upah yang layak.
Selain itu, penelitian berkelanjutan juga diperlukan untuk memantau perubahan norma dan perilaku generasi muda agar dampaknya terhadap ketahanan keluarga dapat dipahami secara lebih mendalam.

Tinggalkan Balasan