Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan terhadap Iran bertujuan menghilangkan “ancaman eksistensial” terhadap Israel. Ia juga berterima kasih kepada Trump atas “kepemimpinan bersejarahnya”.dilansir dari The Guardian, Sabtu( 28/2/2026).

“Israel dan Amerika Serikat memulai operasi untuk menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan rezim teroris di Iran,” kata Netanyahu.

Menurutnya, selama 47 tahun rezim Ayatollah menyerukan “Kematian bagi Israel” dan “Kematian bagi Amerika”, serta tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir.

Baca juga :  Zelensky Ngotot! Minta Jaminan Keamanan 20 Tahun dari AS Sebelum Teken Damai

Netanyahu bahkan menyatakan operasi ini dapat membuka jalan bagi rakyat Iran untuk menggulingkan rezim Ayatollah dan membentuk Iran yang “bebas dan cinta damai”.


🚀 Iran Terus Hujani Israel dengan Rudal

Di sisi lain, Israel Defense Forces (IDF) melaporkan Iran masih meluncurkan rentetan rudal (barrage of missiles) ke wilayah Israel.

Sistem pertahanan udara Israel terus bekerja untuk mencegat proyektil yang masuk. Sirene peringatan terdengar di berbagai wilayah, menandakan ancaman belum mereda.

Baca juga :  Dihantam Mahkamah Agung, Trump Ngamuk! Teken Tarif Global 10 Persen, 6 Hakim Dicap Aib Bangsa

Situasi ini menunjukkan konflik telah berkembang menjadi pertukaran serangan langsung antara kedua negara.


🎯 Target Politik dan Militer Iran

Sebelumnya, ledakan besar mengguncang Teheran dan sejumlah kota lain. Markas Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) dilaporkan menjadi sasaran. Sumber Iran menyebut Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei berada di lokasi aman yang dirahasiakan.

Serangan ini dinilai tidak sekadar tekanan diplomatik, melainkan upaya strategis melemahkan struktur militer dan politik Iran.

Baca juga :  Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak USD100

Retorika keras dari Washington dan Tel Aviv, disertai balasan rudal dari Teheran, memperlihatkan konflik berpotensi meluas menjadi perang regional.

Jika serangan berlanjut dan aktor-aktor regional lain ikut terseret, Timur Tengah bisa memasuki fase konflik berskala besar.

Dunia kini menunggu: apakah eskalasi ini akan berujung perang terbuka penuh, atau masih ada ruang bagi diplomasi di menit-menit terakhir?