DIKSIMERDEKA.COM,JENEWA – Iran memasuki babak krusial negosiasi program nuklir dengan Amerika Serikat (AS) di Jenewa, Kamis (waktu setempat). Pemerintah Teheran menegaskan, kesepakatan bisa tercapai asal Washington tidak mengingkari tiga syarat utama yang sudah dibahas dalam perundingan tidak langsung sebelumnya.

Tiga prasyarat itu adalah pengakuan simbolik hak Iran untuk memperkaya uranium, izin mengencerkan stok uranium yang diperkaya tinggi, serta tidak memasukkan program rudal balistik Iran dalam paket negosiasi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelum bertolak ke Jenewa, menegaskan target negaranya jelas.

“Kami ingin mencapai kesepakatan yang adil dan setara dalam waktu sesingkat mungkin. Iran tidak akan pernah, dalam kondisi apa pun, mengembangkan senjata nuklir. Namun kami juga tidak akan melepaskan hak untuk memanfaatkan teknologi nuklir secara damai,” tegas Araghchi.

Ia menambahkan, “Kesepakatan sudah dalam jangkauan, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan.”

🎯 5 Persen Jadi Batas Aman

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, disebut hanya meminta Iran membatasi pengayaan uranium di bawah 5 persen—setara dengan kesepakatan nuklir 2015 era Barack Obama dan jauh di bawah kadar senjata nuklir.

Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran menyebut proposal AS dinilai “lunak”. Iran hanya diminta membatasi pengayaan 5 persen dan mengonversi programnya untuk tujuan sipil.

Namun, belum ada tawaran pencabutan sanksi secara langsung. Artinya, ekonomi Iran tetap berada dalam “borgol finansial”. Saat ini, sanksi AS diperkirakan membekukan aset Iran di luar negeri hingga puluhan miliar dolar AS—setara ratusan triliun rupiah.

Sebagai gambaran, jika aset yang dibekukan mencapai USD 80 miliar, nilainya setara sekitar Rp1.280 triliun (kurs Rp16.000/USD).

💣 Trump Keras, Rubio Ancam

Presiden AS Donald Trump justru mengeraskan nada pidatonya dalam State of the Union. Ia menuduh Iran kembali membangun program senjata nuklir dan menyebut Teheran sebagai sponsor terorisme nomor satu dunia.

“Kami sudah menghancurkannya (fasilitas nuklir). Dan mereka ingin memulai lagi dari awal,” klaim Trump.

Ia juga menyebut 32.000 demonstran tewas dalam gelombang protes terbaru di Iran—klaim yang dibantah keras Teheran.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan akan menjadi “masalah besar” jika Iran menolak bernegosiasi soal rudal balistik.

Di sisi lain, anggota senior Partai Demokrat di Komite Intelijen DPR AS, Jim Himes, mengingatkan, “Kami belum mendengar satu alasan kuat pun mengapa sekarang adalah waktu yang tepat memulai perang baru di Timur Tengah.”

🌍 IAEA & Oman Jadi Penentu

Kehadiran kepala badan pengawas nuklir PBB, Rafael Grossi, dalam perundingan dianggap krusial. Grossi memiliki otoritas hukum untuk memastikan apakah akses inspeksi yang diberikan Iran benar-benar memadai.

Sementara itu, Oman kembali bertindak sebagai mediator.

Iran juga membuka peluang memberi “kemenangan politik” bagi Trump, asalkan kesepakatan baru bisa diklaim lebih baik dari perjanjian 2015.

🔥 Protes Mahasiswa & Bayang-Bayang Perang

Di dalam negeri, gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai kampus Iran memasuki hari kelima. Situasi ini memperbesar tekanan politik bagi pemerintah Teheran di tengah ancaman eskalasi militer.

Araghchi bahkan mengingatkan, situasi sangat berbahaya di tengah penumpukan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyamakan pernyataan Trump dengan propaganda Joseph Goebbels, menteri propaganda Adolf Hitler.

“Semua tuduhan terkait program nuklir, rudal balistik, dan jumlah korban hanyalah pengulangan ‘kebohongan besar’,” tegasnya.

Kini, dunia menunggu hasil perundingan Jenewa. Jika gagal, bukan hanya Iran dan AS yang terdampak. Seluruh Timur Tengah bisa kembali terbakar.