DIKSIMERDEKA.COM,AKARTA Cuaca Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda kering. Hasil pemantauan atmosfer Dasarian II Februari 2026 memperlihatkan 81,3 persen wilayah Indonesia masih berada dalam fase musim hujan, dengan dominasi hujan kategori menengah hingga tinggi. Sinyal global pun menguatkan kondisi basah, meski fenomena La Niña mulai melemah menuju fase netral. begitu yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam rilisnya Senin (23/02/2026).

Data iklim terbaru menunjukkan indeks ENSO berada di –0,27, menandakan La Niña lemah sedang meluruh. Kondisi netral diperkirakan mulai terbentuk pada Februari–Maret dan bertahan hingga pertengahan 2026. Sementara itu, indeks IOD tercatat +0,41 atau masih dalam fase netral dan diprediksi stabil sampai pertengahan tahun.

Baca juga :  Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Sukabumi

Atmosfer Basah, Awan Lebih Tebal dari Normal
Analisis radiasi gelombang panjang (OLR) menunjukkan tutupan awan di sebagian besar Indonesia lebih luas dibanding kondisi klimatologis normal. Kelembapan udara juga tergolong tinggi, berkisar 60–75 persen di berbagai lapisan atmosfer, kondisi yang sangat mendukung pembentukan hujan.

Aliran massa udara saat ini didominasi angin baratan, dengan belokan angin terdeteksi di sekitar ekuator. Sistem tekanan rendah juga terpantau di wilayah Papua utara, memperbesar peluang hujan terutama di Indonesia bagian timur.

Fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif di fase Samudra Hindia dan bergerak menuju wilayah Maritim Indonesia hingga akhir Februari. Aktivitas ini diprediksi memperkuat pertumbuhan awan hujan, terutama di kawasan timur Nusantara.

Baca juga :  Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dimulai 18.03 WIB, Totalitas 59 Menit

Wilayah Siaga Hingga Awas Hujan Lebat
Peringatan dini curah hujan Dasarian III Februari menetapkan status:

  • Waspada: DIY, sebagian Sumsel, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Kaltim, Kalsel, Sulteng, Sulsel.
  • Siaga: sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, NTT.
  • Awas: sebagian wilayah Pulau Lombok (NTB).

Sementara itu, tidak ada wilayah Indonesia yang berstatus siaga maupun awas kekeringan meteorologis.

Distribusi Hujan Terkini
Pada Dasarian II Februari:

  • Sangat tinggi: 0,34% wilayah
  • Tinggi: 9,02%
  • Menengah: 73,88%
  • Rendah: 16,76%

Adapun sifat hujan menunjukkan:

  • Atas normal: 40,3% wilayah
  • Normal: 28,03%
  • Bawah normal: 31,67%

Prospek Hujan Hingga Agustus
Prediksi curah hujan >300 mm/bulan menunjukkan potensi hujan sangat tinggi pada Maret–April di sejumlah wilayah seperti pesisir barat Aceh, sebagian Jawa, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua. Memasuki Mei hingga Agustus, pusat hujan lebat diperkirakan bergeser dominan ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Baca juga :  Jelang Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi

Suhu Stabil, Risiko Bencana Tetap Ada
Suhu rata-rata nasional masih stabil di kisaran 24–28°C, dengan maksimum 32°C. Meski tidak ada ancaman gelombang panas, kondisi atmosfer basah meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal, longsor, dan angin kencang konvektif.

Kombinasi ENSO menuju netral, IOD netral, dan atmosfer regional yang lembap membuat Indonesia masih berada dalam pola cuaca basah. Artinya, musim hujan belum benar-benar berakhir terutama di wilayah barat dan tengah Indonesia hingga Maret 2026.