Data Pangan Februari 2026 Bikin Deg-degan: Beras Aman, Minyak Tersendat, DPR Minta Bulog Turun Gunung
DIKSIMERDEKA.COM,JAKARTA — Alarm pangan mulai berbunyi. Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, mengingatkan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Negara, khususnya Bulog, tak boleh hanya berdiri di pinggir lapangan saat harga beras dan kebutuhan pokok lain berpotensi melonjak saat Ramadan.
Menurutnya, Ramadan kerap menjadi “musim panen” bagi oknum yang memanfaatkan lemahnya pengawasan. Polanya berulang, celahnya sama: distribusi longgar, kontrol harga melemah, rakyat jadi korban.
“Jangan lengah. Ini pola lama yang terus berulang karena pengawasan longgar,” kata Riyono dikutip Rabu (18/2/2026).
Data memang terlihat aman di atas kertas. Bulog melaporkan stok beras nasional per awal Februari 2026 mencapai 3,2 juta ton. Namun situasi berbeda terjadi pada minyak goreng. Realisasinya baru 20 persen dari target produksi nasional sebesar 700 ribu ton.
Bagi Riyono, angka-angka itu tak boleh sekadar jadi bahan presentasi. Kombinasi stok tak ideal, distribusi timpang, dan harga tak terkendali adalah paket lengkap krisis jelang Ramadan.
“Ini harus jadi perhatian serius sampai H-1 Ramadan,” ucap politisi Fraksi PKS tersebut.
Ia menegaskan, persoalan pangan bukan cuma soal stok. Distribusi dan pengendalian harga di daerah minus pangan justru jadi titik rawan. Jika rantai pasok tak dibenahi, lonjakan harga tinggal menunggu waktu.
“Pasar modern dan pasar tradisional harus sama-sama dikawal. Daerah yang defisit pangan harus jadi prioritas, bukan justru dibiarkan jadi ladang spekulasi,” kata legislator asal Jawa Tengah ini.
Riyono juga menyoroti peran negara yang dinilai kerap melemah di hadapan kepentingan pasar dan korporasi. Padahal pangan adalah sektor strategis. Negara wajib menguasai kendali, bukan menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar yang sering tak berpihak pada rakyat.
Ia mengingatkan agar pangan tak dikendalikan oknum, apalagi produk impor yang menggerus stabilitas. Satgas Pangan diminta bekerja ekstra ketat.
“Negara jangan sampai malah ikut mencari untung dari penderitaan rakyat,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Riyono mengusulkan tiga jurus stabilisasi. Pertama, Bulog wajib memastikan stok aman dan merata di setiap pulau besar. Kedua, Satgas Pangan harus melakukan patroli harga harian di pusat pasar tradisional utama. Ketiga, pemerintah harus menjatuhkan sanksi tegas bagi pelanggar Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pesannya lugas: Bulog harus hadir nyata di pasar rakyat, bukan sekadar di laporan. Celah pelanggaran ditutup, harga dikendalikan presisi. Jika tidak, rakyat lagi-lagi yang membayar mahal akibat kelengahan negara.

Tinggalkan Balasan