DIKSIMERDEKA.COM,BOGOR– Di tengah perubahan iklim dan ketergantungan gandum impor yang tembus 12,7 juta ton pada 2024, dunia pertanian Indonesia ditantang berinovasi. Jawabannya? Lahan suboptimum yang selama ini dipandang sebelah mata.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Trikoesoemaningtyas, menegaskan potensi besar itu dalam Orasi Ilmiah Guru Besar, Sabtu (14/2).

“Dari total 189,1 juta hektare daratan Indonesia, sekitar 91,1 juta hektare merupakan lahan suboptimum. Inilah ruang masa depan produksi pangan kita,” jelasnya.

Sebagian besar lahan tersebut menghadapi cekaman abiotik: pH tanah rendah, salinitas tinggi, hingga defisiensi hara. Dampaknya jelas, tanaman tumbuh tak optimal dan produktivitas jeblok.

“Karena itu, kami mengusulkan perbaikan adaptasi tanamannya. Pemuliaan untuk lingkungan bercekaman bertujuan meningkatkan stabilitas hasil pada kondisi yang tidak optimum,” ujarnya.

Lewat pendekatan fisiologi dan analisis genetik, tim IPB mengidentifikasi mekanisme adaptasi dan sifat toleran yang bisa diwariskan. Seleksi karakter unggul dipercepat demi menghasilkan varietas yang efisien dan adaptif.

Program ini berdiri di atas tiga pilar: ketahanan (resilience), keberlanjutan (sustainability), dan kemanusiaan (humanity). “Varietas yang dihasilkan harus adaptif, efisien dalam penggunaan input, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” tuturnya.

Sorgum dan Gandum Tropika Jadi Andalan

Salah satu komoditas yang didorong adalah sorgum, tanaman pangan kelima terbesar di dunia dengan kandungan protein sekitar 11 persen—mendekati gandum.

“Sorgum dapat dengan mudah diproses menjadi tepung dan secara gizi kompetitif. Bahkan bersifat gluten free, sehingga cocok bagi masyarakat yang intoleran terhadap gluten,” terangnya.

Tak hanya sebagai pangan alternatif, sorgum juga potensial sebagai sumber bioetanol dan biomassa energi. “Adaptasinya di tanah masam membuka peluang peningkatan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk dan kapur,” tutur Prof Trikoesoemaningtyas.

Di sisi lain, IPB juga mengembangkan gandum tropika melalui pendekatan fisiologi, genetik, dan metode shuttle breeding. Bersama Konsorsium Penelitian Gandum, dua varietas telah dilepas: Guri-7-Agritan dan Guri-8-Agritan, yang adaptif di dataran menengah tropika.

“Dari sisi gizi, gandum hasil pemuliaan peneliti Indonesia layak diolah menjadi pangan bergizi. Namun, saat ini produksinya memang belum mencukupi kebutuhan skala besar,” ungkapnya.

Sorgum direkomendasikan untuk lahan suboptimum seperti lahan kering masam, lahan beriklim kering, hingga lahan bekas tambang. Sementara gandum selama ini optimal di dataran tinggi, namun ke depan akan direkomendasikan di ketinggian menengah 400–600 mdpl.

“Karena lebih tersedia, ini lahan suboptimum untuk gandum karena suhu tinggi,” tambahnya.

Menurutnya, agenda swasembada pangan tak bisa lagi hanya bertumpu pada lahan ideal. “Kebutuhan akan varietas adaptif akan semakin meningkat guna menjamin stabilitas hasil dan mendukung ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.