Fatalitas Bisa 75 Persen! Ini Tanda-tanda Gejala Awal Terjangkit Virus Nipah
DIKSIMERDEKA.COM,JAKARTA-Ancaman virus Nipah kembali bikin banyak negara siaga. Bukan tanpa alasan. Virus zoonosis ini dikenal mematikan dan bisa menghantam sistem saraf manusia. Kalau sudah parah, ujungnya bisa kematian. Indonesia memang belum mencatat kasus pada manusia, tetapi kondisi lingkungan yang mirip dengan negara terdampak bikin alarm kewaspadaan tidak boleh dimatikan.
Dosen Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM sekaligus Dokter Spesialis Mikrobiologi RSA UGM, dr. M. Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK, menegaskan kematian akibat virus ini sangat ditentukan kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan pasien. Dalam beberapa wabah, jumlah kematian bahkan melonjak dibanding kasus yang terdeteksi. “Case fatality rate virus Nipah diperkirakan berkisar antara 40 hingga 75 persen, bergantung pada sistem kesehatan dan penanganan klinis,” ungkap Edwin, Selasa (10/2).
Masalahnya bukan cuma angka kematian tinggi. Virus Nipah juga brutal karena langsung menyerang sistem saraf pusat. Infeksi bisa berubah menjadi ensefalitis alias radang otak berat. Gejalanya cepat dan ganas: kesadaran menurun, kejang, sampai gagal bertahan. “Virus ini bisa menyerang otak dan memicu penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian dalam waktu relatif singkat,” Edwin berujar.
Yang bikin repot, gejala awal virus ini sering menyamar seperti flu biasa. Akibatnya, pasien sering telat terdeteksi. Padahal waktu adalah faktor krusial. “Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan nyeri tenggorokan,” ia berkata.
Dalam hitungan hari, kondisi bisa berubah drastis. Pasien dapat mengalami disorientasi, kesadaran menurun, hingga kejang. Bahkan sebagian kasus disertai gangguan napas. Edwin menekankan kecepatan penurunan kondisi jadi tantangan serius tenaga medis. “Perjalanan penyakitnya bisa cepat memburuk, sehingga kewaspadaan sejak fase awal sangat penting,” tutur Edwin.
Soal potensi masuk ke Indonesia, sampai sekarang belum ada laporan kasus manusia. Namun bukan berarti aman total. Indonesia punya kondisi ekologi yang serupa dengan wilayah endemis. Selain itu, reservoir alami virus Nipah memang ada di Asia Tenggara. Wabah juga masih muncul di negara tetangga. “Potensi spillover tetap ada meski risikonya saat ini masih dinilai rendah,” Edwin menjelaskan.
Kalau ada pasien mengarah ke Nipah, rumah sakit rujukan langsung bergerak dengan protokol penyakit infeksi emerging. Pemeriksaan riwayat perjalanan, isolasi pasien, hingga penggunaan APD wajib jadi standar. “Penanganan awal mencakup isolasi, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif,” katanya.
Indonesia sebenarnya tidak mulai dari nol. Sistem surveilans penyakit emerging sudah ada. Jaringan RS rujukan juga sudah terbentuk. Pengalaman pandemi COVID-19 dan flu burung jadi modal penting. Meski begitu, penguatan ruang isolasi dan SDM masih jadi PR di sejumlah daerah.
Pesan terakhir jelas: jangan panik, tapi juga jangan cuek. “Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana,” pesan Edwin.

Tinggalkan Balasan