DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus penularan virus Nipah di wilayah Bali. Meski demikian, kewaspadaan dini tetap diperkuat mengingat Bali merupakan salah satu daerah dengan populasi dan produksi ternak babi terbesar di Indonesia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menegaskan bahwa langkah antisipasi terus dilakukan melalui koordinasi lintas sektor.

“Sampai saat ini belum ada temuan kasus virus Nipah di Bali. Namun kami tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama melalui koordinasi dengan dinas pertanian dan instansi terkait,” ujarnya, Kamis (29/1/26).

Baca juga :  Pemprov Bali Targetkan Temukan 6.000 Kasus TBC di 2026, Desa Siaga Jadi Strategi Utama

Ia menjelaskan, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang secara alami dibawa oleh kelelawar dan dapat menular ke hewan lain, termasuk babi, sebelum berpotensi menginfeksi manusia. Menurutnya, pengalaman wabah di negara lain menjadi pelajaran penting bagi Bali.

“Kita belajar dari kejadian di Malaysia tahun 1998, di mana penularan virus Nipah berdampak besar hingga menyebabkan pemusnahan ternak babi,” kata Raka.

Meski belum ada kasus di Indonesia, Dinkes Bali tetap meningkatkan pengawasan di lapangan. Salah satu potensi penularan, lanjutnya, berasal dari lingkungan peternakan yang berdekatan dengan habitat kelelawar.

Baca juga :  Pemprov Bali Dukung Seminar UNBI–Kalbe Farma tentang Peran Sel Punca dalam Kedokteran Pariwisata

“Risiko bisa terjadi jika buah yang terkontaminasi air liur kelelawar dikonsumsi oleh ternak. Karena itu, pengawasan peternakan menjadi perhatian serius,” jelasnya.

Selain pengawasan terhadap hewan, Pemprov Bali juga memperketat pengendalian pintu masuk daerah melalui bandara dan pelabuhan.

“Kami bekerja sama dengan Balai Besar Karantina Kesehatan untuk memantau lalu lintas orang dari luar daerah dan luar negeri,” tambah Raka.

Beberapa negara yang menjadi perhatian utama antara lain Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand, yang sebelumnya pernah menetapkan status kejadian luar biasa terkait virus Nipah.

Baca juga :  Raih Penghargaan, Dinkes Bali Tetap Gencarkan Penanganan HIV/AIDS

“Pelaku perjalanan dari negara-negara tersebut tetap kami pantau sesuai prosedur kesehatan,” ujarnya.

Dinkes Bali memastikan seluruh fasilitas kesehatan dalam kondisi siap siaga apabila ditemukan kasus.

“Puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun swasta telah kami siapkan, termasuk ruang isolasi, tenaga medis, dan obat-obatan,” tegas Raka.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada terhadap gejala awal virus Nipah yang menyerupai flu dan demam.

“Kami mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta tidak mengonsumsi buah yang tidak terjamin kebersihannya,” pungkasnya.