DIKSIMERDEKAJAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tak mau cuma jadi penonton di dunia kesehatan modern. Lembaga riset ini langsung gas pol dengan mengembangkan delapan kit radiofarmaka, mulai dari deteksi tuberkulosis (TBC) hingga terapi kanker tulang.

Terobosan ini dipaparkan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, Rien Ritawidya, dalam Temu Bisnis Radioisotop dan Radiofarmaka di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (5/2).

Langkah ini bukan sekadar riset biasa. Sebaliknya, ini jadi sinyal Indonesia mulai serius mengejar kemandirian teknologi kesehatan berbasis nuklir. Selain itu, peluang industri dalam negeri juga terbuka lebar.


🔬 TBC Jadi Target Utama

BRIN menyiapkan Kit Etambutol untuk mendeteksi sebaran bakteri TBC di dalam maupun luar paru. Apalagi, Indonesia masih jadi negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia.

“Kit Etambutol ini memiliki manfaat untuk menjadi agen diagnostik ketika dicampurkan dengan larutan radioisotop teknesium-99m (Tc-99m), yang bermanfaat untuk deteksi dan diagnosis ekstra pulmonary tuberculosis,” kata Rien.

Namun begitu, hilirisasi produk masih terkendala fasilitas produksi berstandar CPOB.


🦴 Kanker Tulang Sampai Jantung Ikut Dibidik

Selain TBC, BRIN juga menyiapkan Kit MDP untuk mendeteksi tumor dan kanker tulang.

“Kit MDP dapat dimanfaatkan untuk deteksi atau diagnosis kanker tulang yang bermetastasis,” kata Rien.

Sementara itu, untuk jantung, BRIN mengembangkan Kit MIBI.

“Ketika ada pasien yang indikasinya ada kelainan fungsi jantung, maka Kit MIBI ini sangat sensitif untuk mengetahui adanya kelainan tersebut,” katanya.


🧪 Ginjal, Payudara, Hingga Metastasis Tulang

Tidak berhenti di situ. BRIN juga menyiapkan Kit DTPA untuk diagnosis ginjal.

“Kami sudah mampu untuk memproduksi kit DTPA walaupun skala riset dan sudah divalidasi untuk upscaling-nya,” kata Rien.

Untuk kanker payudara, ada Kit Nanokoloid HSA.

“Kit ini sangat sensitif untuk mengetahui adanya kanker payudara secara dini, karena sering kali kanker diketahui pada stadium yang sudah tinggi,” ujarnya.

Selain itu, ada juga Kit DMSA untuk pencitraan ginjal dan tumor.

“Kit DMSA ini walaupun masih dalam tahap riset dan pengembangan, tapi kit ini masuk dalam formularium nasional,” ujar Rien.


💉 Terapi Nyeri Kanker dan Deteksi Kanker Langka

Kit EDTMP disiapkan untuk diagnosis sekaligus terapi metastasis tulang.

“Untuk kanker yang sudah bermetastasis ke tulang itu rasanya sakit luar biasa, sehingga diperlukan agen-agen terapi yang fungsinya untuk meredakan rasa sakit ini pada pasien kanker. Diharapkan, kualitas hidup pasien kanker tersebut akan lebih baik,” kata Rien.

Sedangkan Kit CTMP dipakai untuk mendeteksi kanker medula adrenal yang kebutuhannya terus meningkat.


⚠ Empat Kit Sudah Siap, Tapi…

Dari delapan kit, empat sudah siap hilirisasi: Etambutol, MDP, DTPA, dan MIBI.

“Produk-produk ini sebelumnya sudah pernah mendapatkan izin edar dan sudah dimanfaatkan di rumah sakit Indonesia,” ujarnya.


🏭 Masalah Besar: Sertifikasi Produksi

BRIN sebenarnya sudah punya fasilitas cleanroom dengan kapasitas 500–1.000 vial per batch. Namun, sertifikasi CPOB masih jadi penghambat utama.

“Kami memiliki fasilitas produksi, namun tantangan utamanya adalah sertifikasi CPOB agar produk-produk riset ini dapat dihilirisasi,” kata Rien.


🤝 BRIN Tunggu Mitra Industri

BRIN kini membuka peluang kerja sama industri.

“Kami terbuka dan menunggu mitra industri yang bisa menangkap peluang ini untuk menjadi mitra kolaborasi kami,” pungkasnya.