Ahli Kedokteran Hewan Ungkap Kengerian Penularan Virus Nipah
DIKSIMERDEKA,JOGJAKARTA – Alarm kewaspadaan kesehatan global kembali berbunyi. Kasus infeksi virus Nipah dilaporkan merebak di India dan langsung memicu kekhawatiran banyak negara, termasuk Indonesia. Pemerintah pun bergerak cepat dengan memperkuat pengawasan, terutama pada pelaku perjalanan internasional, alat angkut, serta barang dari luar negeri di pelabuhan dan bandara.
Virus Nipah dikenal sebagai virus zoonosis mematikan yang berasal dari kelelawar buah. Penularannya bisa terjadi melalui hewan perantara seperti babi dan kuda, bahkan bisa menyebar antarmanusia lewat kontak erat. Dampaknya tidak main-main, mulai dari gangguan pernapasan berat hingga radang otak mematikan.
⚠ Fatal Pada Manusia, Serang Otak dan Pernapasan
Dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri, menjelaskan virus ini bisa sangat berbahaya.

“Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” ujarnya, Jumat (6/2).
Pada hewan seperti babi dan kuda, virus ini biasanya memicu gangguan pernapasan dan saraf, bahkan bisa berujung kematian.
🦇 Dipengaruhi Musim dan Kondisi Kelelawar
Khrisdiana menjelaskan virus Nipah bersifat musiman. Kondisi stres atau kelaparan pada kelelawar bisa meningkatkan risiko penularan.
Saat sumber pakan alami berkurang, seperti nira di hutan, maka potensi penyebaran virus ikut meningkat karena virus menjadi lebih aktif.
🐖 Peternakan Babi Dekat Kebun Nira Jadi Sorotan
Pemerintah disebut sudah melakukan langkah pencegahan melalui regulasi, salah satunya melarang peternakan babi dekat perkebunan nira.
“Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” pungkasnya.
Selain itu, konsumsi nira segar tanpa pengolahan juga dinilai berisiko.
“Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” ujarnya.
🧼 PHBS Jadi Senjata Utama Pencegahan
Meski mematikan, virus Nipah sebenarnya lemah di lingkungan luar inang. Karena itu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dinilai sangat efektif mencegah penularan.
“Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri,” tutupnya.
🌍 Penularan Antar manusia Jadi Kekhawatiran Besar
Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, mengingatkan bahwa kelelawar merupakan reservoir utama virus Nipah.
“Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,” ungkapnya.
Secara historis, virus ini pertama ditemukan di Nipah, Malaysia. Awalnya menular dari kelelawar ke babi lalu ke manusia. Namun di Bangladesh dan India, penularan bisa langsung dari kelelawar ke manusia.
“Selain itu, ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,” jelasnya.
🚨 Indonesia Butuh Early Warning System
Heru menilai Indonesia harus memperkuat sistem peringatan dini untuk penyakit zoonosis.
“Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” tegasnya.
Ia juga menegaskan solusi bukan dengan memusnahkan kelelawar, tetapi menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan.
“Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan