DIKSIMERDEKA.COMJAKARTA—Kalau rokok ditaruh di balik etalase, dipajang dengan peringatan seram, iklannya dibatasi, dan cukainya bikin dompetkempes, pertanyaannya: kenapa makanan ultra-proses (UPF) bisa melenggang santai?

Padahal, menurut laporan peneliti dari Harvard, University of Michigan, dan Duke University, UPF itu lebih mirip rokok daripada buah dan sayur. Bukan sekadar karena bikin gemuk. Tapi karenaada hal yang bikin ngeri, UPF dirancang supaya bikin ketagihan.Dilansir dari The Guardian

Studi itu menegaskan UPF dan rokok punya DNA yang mirip: sama-sama produk industri yang “disetting” buat bikin orang susah berhenti.

Dalam studi yang terbit 3 Februari di jurnal Milbank Quarterly, para peneliti menyebut ada kemiripan cara produksi rokok dan UPF. Produsen mengatur “dosis” serta memikirkan seberapa cepat produk itu bekerja pada jalur reward tubuh—jalur yang bikin orang merasa “enak”, “nagih”, “harus nambah lagi”.

Singkatnya: bukan lapar yang bicara, tapi candu yang memerintah.

UPF ini bukan makanan rumahan. Ini barang pabrikan: minuman bersoda, keripik, biskuit, kue, fast food, roti massal, sereal sarapan, dessert siap makan. Bahkan, semua susu formula dan banyak makanan bayi komersial juga masuk kategori ini.

Dan jangan kaget dengan daftar isi yang panjangnya bisa ngalahin daftar utang: konsentrat jus, maltodekstrin, dekstrosa, sirup emas, minyak hidrogenasi, protein isolat kedelai, gluten, daging pemisahan mekanis, pati ini itu, sampai MSG, pewarna, pengental, pelapis.

Ini makanan atau eksperimen laboratorium?

Lebih parah lagi: UPF berkaitan dengan obesitas, kanker, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Kandungan garam, gula, lemak, serta aditifnya tinggi. Sementara nutrisi penting buat anak—protein, seng, magnesium, vitamin A, C, D, E, B12, niasin—justru sering rendah.

Selain itu, UPF juga diduga bikin kesehatan usus kacau karena mengganggu perkembangan mikrobiota.

Para peneliti pun menohok:

“Banyak UPF memiliki lebih banyak karakteristik yang mirip dengan rokok dibanding dengan buah atau sayuran yang diproses minimal, dan karena itu memerlukan regulasi yang setimpal dengan risiko kesehatan masyarakat yang signifikan yang mereka timbulkan,” simpul mereka.

Salah satu penulis, Prof Ashley Gearhardt—psikolog klinis spesialis kecanduan bilang, pasiennya sendiri sudah lama merasa “ini candu”.

“Mereka bilang, ‘Saya merasa kecanduan ini, saya ngidam dulu saya merokok dan sekarang kebiasaan yang sama tapi dengan soda dan donat. Saya tahu ini membunuh saya; saya ingin berhenti, tapi saya tidak bisa,’” kata Gearhardt.

Dan katanya, ini pola klasik: awalnya masyarakat disuruh “jangan lebay”, “secukupnya saja”. Sama seperti dulu orang bilang, “merokok secukupnya saja kok”.

Gearhardt menyindir cara pikir seperti itu:

“Kita menyalahkan individu untuk sementara dan bilang ‘oh, merokok secukupnya, minum secukupnya’—dan akhirnya kita sampai pada titik memahami tuas-tuas yang bisa ditarik industri untuk menciptakan produk yang benar-benar bisa membuat orang ketagihan,” ujarnya.

Nah, bedanya dengan rokok: makanan itu kebutuhan hidup. Tapi justru itu, kata peneliti, membuat regulasi makin perlu. Karena orang tak bisa “puasa total” dari lingkungan pangan modern. Mau ke mana pun, UPF ada: minimarket, toko online, kantin, iklan.

Para peneliti meminta pendekatan seperti regulasi tembakau: pembatasan pemasaran, intervensi struktural, sampai jalur hukum. Intinya: jangan terus menyalahkan konsumen. Saatnya industri ikut dimintai tanggung jawab.

Meski begitu, ada juga yang mengingatkan jangan kebablasan. Prof Martin Warren dari Quadram Institute menilai perbandingan UPF dengan rokok bisa “berlebihan”. Ia mempertanyakan apakah UPF benar-benar adiktif seperti nikotin atau hanya memanfaatkan kebiasaan, kenyamanan, dan conditioning.

Namun alarm sudah berbunyi. Di Afrika, CEO Amref Health Africa, Dr Githinji Gitahi, menyebut perusahaan menemukan “zona nyaman”: regulasi lemah + pola konsumsi berubah.

“Semua ini menambah tekanan baru yang bisa dicegah pada sistem kesehatan yang sudah kewalahan,” katanya.

Kalau begini terus, yang sehat bukan rakyat—tapi laba perusahaan.