Cegah Wabah Meluas, Bali Tutup Lalu Lintas Ternak Jembrana Enam Bulan
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali mengambil langkah cepat dengan menutup sementara lalu lintas hewan ternak di Kabupaten Jembrana selama enam bulan. Kebijakan ini diterapkan menyusul temuan kasus Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi dan kerbau, demi melindungi wilayah lain di Bali dari ancaman penyebaran penyakit menular tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Sunada, menyampaikan bahwa hingga Kamis (15/1/2026) tercatat 28 ekor ternak di Jembrana dinyatakan positif LSD berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium rujukan nasional. Dari jumlah tersebut, dua ekor dilaporkan mati akibat infeksi.
“Penanganan langsung kami lakukan sejak kasus terkonfirmasi. Dari 28 ekor yang positif, dua ekor tidak tertolong,” kata Sunada.
Ia menjelaskan, kasus ini bermula dari laporan peternak pada 24 Desember 2025. Sejumlah sapi menunjukkan gejala awal berupa demam tinggi, pembengkakan di bagian tubuh tertentu, serta munculnya nodul atau benjolan di kulit. Sampel kemudian diuji melalui metode PCR, hingga pada 29 Desember 2025 Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates memastikan ternak tersebut terinfeksi virus LSD.
“Ini adalah kejadian pertama LSD terdeteksi di Bali. Karena itu, respons cepat dan terukur menjadi kunci utama,” ujarnya.
Setelah hasil laboratorium keluar, tim gabungan langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan penelusuran di beberapa desa, antara lain Baluk, Kaliakah, Banyubiru, Berangbang, dan Manistutu. Dari hasil investigasi tersebut, pemerintah menetapkan pemotongan bersyarat terhadap ternak yang terinfeksi sebagai langkah pengendalian darurat.
“Pemotongan bersyarat sudah mulai dilakukan sejak Rabu (14/1/2026) dan dilaksanakan secara bertahap sesuai prosedur,” jelas Sunada.
Pemprov Bali menduga kuat virus LSD masuk ke wilayah Jembrana akibat pergerakan ternak ilegal dari luar daerah. Untuk menghentikan potensi penularan lebih luas, seluruh aktivitas keluar-masuk ternak dari dan menuju Jembrana resmi dihentikan sementara.
“Mulai hari ini Jembrana kami isolasi. Tidak ada lalu lintas ternak selama enam bulan ke depan, sampai situasi benar-benar aman,” tegasnya.
Selain penutupan jalur distribusi ternak, pemerintah juga memperketat langkah biosekuriti, termasuk penyemprotan disinfektan secara rutin. Penyakit LSD diketahui dapat menyebar melalui serangga, terutama lalat penghisap darah, sehingga pengendalian lingkungan menjadi perhatian utama.
Kasus ini turut mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dijadwalkan melakukan kunjungan ke Jembrana pada Jumat (16/1/2026) untuk menyerahkan bantuan sarana dan prasarana penanganan penyakit.
Menjelang meningkatnya kebutuhan ternak pada Ramadan dan Idulfitri, Sunada mengakui kekhawatiran peternak tidak dapat dihindari. Namun, ia menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan ternak di seluruh Bali harus diutamakan.
“Langkah ini memang berat, tetapi harus diambil agar Bali tidak menghadapi wabah yang lebih besar,” pungkasnya.
Pemprov Bali mengimbau peternak tetap waspada dan proaktif melaporkan setiap temuan gejala mencurigakan pada ternak. Pemerintah memastikan seluruh upaya pengendalian dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan prinsip kehati-hatian demi menjaga Bali tetap bebas dari wabah penyakit hewan menular.

Tinggalkan Balasan