DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Warga negara Rusia Sergei Domogatsky membantah keras tuduhan bahwa dia berpura-pura diculik. Dia mengatakan tuduhan itu sengaja dilontarkan untuk membentuk opini negetif tentang dirinya.

“Itu tuduhan palsu dari pihak yang menculik saya, untuk merusak nama saya,” katanya saat dihubungi, Kamis, (04/12/2025).

Sergei mengungkapkan sudah melaporkan penculikan tersebut ke polisi dan telah menunjuk pengacara hukum. Proses penyelidikan pun tengah berlangsung

Di samping itu, Sergei juga membantah tuduhan bahwa dirinya melarikan diri ke Singapura. Dia mengaku pergi ke Singapura untuk mencari tempat aman karena sedang menghadapi tekanan dari mafia.

Sebelumnya, Sergei melalui @mr.terimakasih, mengaku diculik dan disiksa saat kembali dari pijat ke Hotel di daerah Sanur.

Saat itu katanya, sebuah mobil Minivan Hitam Toyota Alparhd menghalangi jalan, dari dalam keluar dua orang Indonesia mengenakan seragam polisi. Mereka langsung menurunkan Sergei dari motor dan membawa dirinya masuk ke dalam mobil.

Sergei mengaku dirinya dibawa ke sebuah rumah di Kawasan Bukit, Jimbaran. Disana ia dipukuli, dicekik, dan disetrum. Di samping itu, mereka juga meminta uang satu juta Dollar.

“Selama 3-4 jam saya dipukuli dan disiksa oleh orang Indonesia. Kemudian datang sekelompok orang Chechnya yang terdiri dari tiga orang. Mereka melanjutkan pemukulan dan penyiksaan saya,” terangnya.

Sergei mengaku semuanya berlangsung hampir delapan jam. Di samping itu, mereka juga memasukan paket berisi zat dengan pistol ke tangan Sergei. Mereka mengancam agar Sergei memenuhi permintaan uang tersebut dalam satu bulan.

“Jika dalam satu bulan saya tidak menemukan. Saya akan dipenjara seumur hidup,” terangnya.

Dalam keterangannya, Sergei mengaku salah satu saksi kunci adalah petugas keamanan di sekitar lokasi penculikan. Ia juga meyakini dua orang dengan inisial AG dan A terlibat dalam peristiwa tersebut.
Ia menceritakan bahwa saat dilepaskan dan dibuang di area kosong dekat Hotel Apurva Kempinski, Nusa Dua, seorang pria bertubuh besar, berkepala botak, dan berjenggot panjang mengantarnya ke lokasi tersebut.

“Ciri-cirinya sangat mirip dengan Ahmed. Meskipun gelap, saya yakin orang yang membawa saya itu adalah dia,” tuturnya.

Namun Sergeii menegaskan penentuan pelaku tetap menjadi kewenangan penuh kepolisian.
“Biarkan fakta penyelidikan yang membuktikan. Saya sepenuhnya mempercayakan kasus ini kepada polisi,” imbuhnya.

Sergei juga membantah kabar yang menyebut dirinya melarikan diri ke Singapura untuk menghindari proses hukum, terlebih terkait puluhan laporan dugaan penipuan investasi properti yang tengah ditangani Direktorat Siber Polda Bali.

“Informasi bahwa saya kabur ke Singapura itu palsu. Semua itu sengaja dibuat untuk merusak nama baik saya,” katanya.

Sergeii menyatakan telah menunjuk kuasa hukum di Indonesia untuk mengawal seluruh proses hukum yang tengah berjalan.

“Semua pertanyaan dan langkah hukum akan diwakili oleh pengacara saya di Indonesia,” ungkapnya, menambahkan bahwa dirinya akan tetap kooperatif mengikuti seluruh prosedur hukum yang berlaku.

Sergei kembali menekankan bahwa dua perkara yang menimpanya tidak boleh dicampur adukkan, yakni kasus penculikan dengan dugaan penipuan investasi properti yang saat ini juga diselidiki Polda Bali berdasarkan laporan 29 warga negara asing dengan nilai kerugian mencapai sekitar Rp80 miliar.

“Isu penculikan palsu dan kabur ke Singapura adalah narasi yang sengaja dibangun untuk menjatuhkan saya. Tujuannya satu, merusak nama baik saya di mata publik,” ucap Sergeii.

Ia berharap publik menunggu hasil resmi penyelidikan kepolisian dan tidak terpengaruh kabar liar di media sosial. “Kebenaran akan terungkap lewat proses hukum, bukan lewat rumor atau opini sembarangan,” pungkasnya.