Pertemuan Penyair Nusantara Resmi Dibuka, Usung Tema Persaudaraan dan Perdamaian
DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-13 resmi dibuka di kawasan kesenian Taman Ismail Marzuki, Kamis (11/09/2025). Mengangkat tema ‘Puisi Untuk Persaudaraan dan Perdamaian’, pertemuan ini dihadiri ratusan peserta dari negara-negara Asia Tenggara.
Acara pembukaan dihadiri Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary dan Irini Dewi Wanti selaku Direktur Bina SDM Kementerian Kebudayaan RI.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Ahmadun Yosi Herfanda menyatakan bahwa terpilihnya Jakarta sebagai tuan rumah menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat kesusastraan, di tengah kondisi banyak negara dan kota yang minatnya mulai memudar.

“Pertemuan ini bukan pertemuan biasa, karena pertemuan membawa semangat persatuan dan perdamaian, dimana semangat negara-negara tertentu mulai mengendur terganggu oleh perang dan perpecahan, namun di Nusantara semangat persaudaraan dan persatuan itu mari terus kita jaga,” ungkapnya.
Hal itu pun senada dengan ungkapan Mochamad Miftahulloh Tamary. Dalam sambutanya Mifrahulloh menyampaikan rasa penghormatannya karena Jakarta menjadi tuan rumah gelaran PPN di tahun 2025 ini.
“Kami merasa terhormat Jakarta dipilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ini, PPN bukan sekedar forum sastra, namun juga ruang dialog lintas budaya yang mempertemukan para penyair dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan Asia Tenggara,” katanya.
Kehadiran para penyair di Jakarta menjadi bukti bahwa sastra menjadi kekuatan untuk menjembatani perbedaan, membangun persahabatan dan menyatukan umat manusia.
Miftah juga mengungkapkan bahwa Jakarta adalah miniatur Indonesia, dimana keberagaman tumbuh dan saling mempengaruhi satu sama lain dan menjadi pintu gerbang kebudayaan Indonesia ke dunia internasional.
“Gelaran PPN ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali posisi Jakarta sebagai kota sastra dunia sekaligus kota global,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu juga diluncurkan Buku Antologi Puisi berjudul “Layang-layang Tak Memilih Tangan”. Maman S. Mahyana sebagai kurotar menyoroti antusias para penyair yang terlibat dalam antologi puisi ini.
Ia pun mengatakan banyaknya kehadiran penyair-penyair muda yang turut meramaikan. Ia mengungkapkan terdapat 40 persen peserta berasal dari kelompok muda.
“Banyaknya keterlibatan generasi muda saat ini, menghidupkan kembali semangat kepenyairan tahun 70-an yang mana sesama penyair antar negara pun memiliki relasi dan jalinan personal yang baik,” tambahnya.
Ia pun menegaskan proses kuratorial ini dilihat dari kualitas isi puisi, pemerataan kuota masing-masing daerah, dan potensi penyair, dan kesesuaian tema.
“Kita tidak melihat siapa itu penyair nya, kita murni melihat isi kualitas dari puisi tersebut. Kita juga tidak menyoroti usia kepenyairan bagi penyair yang terlibat,” jelasnya.
Adapun tema “Persaudaraan dan Perdamain” PPN mencoba mengambil peran lewat antologi puisi ini yang menjadikan puisi sebagai salah satu cara untuk meredakan peperangan dan penyampaian pesan perdamaian.
PNN XIII akan berlangsung sampai 14 September 2025 dengan beragam kegiatan seperti seminar kesastraan, workshop, hingga pentas puisi.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan