PPN XIII Jakarta: Puisi Jadi Jembatan Persaudaraan Asia Tenggara
DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) kembali digelar untuk ke-13 kalinya di Jakarta. Ajang sastra lintas negara Asia Tenggara ini telah menempuh perjalanan panjang sejak pertama kali lahir di Medan pada 2007.
Saat itu, sekitar 50 penyair dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand berkumpul atas prakarsa Laboratorium Sastra Medan. Mereka sepakat menjadikan puisi sebagai pengikat persaudaraan antarbangsa.
Kesepakatan tersebut ditandatangani sejumlah tokoh sastra, di antaranya Mohamad Saleeh Rahamad dan S.M. Zakir (PENA Malaysia), Viddy AD Daery dan Ahmadun Yosi Herfanda (KSI Indonesia),

Lalu ada juga, Afrion (Laboratorium Sastra Medan), Zefri Ariff (Asterawani Brunei Darussalam), Nik Rakib bin Nik Hassan (Nusantara Studies Thailand), serta Djamal Tukimin (Asas 50 Singapura).
Sejak itu, PPN rutin bergulir di berbagai kota dan negara. Medan, Kediri, Brunei Darussalam, Kuala Lumpur, Palembang, Jambi, Singapura, Thailand, Tanjung Pinang, Banten, Kudus, hingga kembali ke Kuala Lumpur, menjadi jejak sejarah perjalanan PPN. Tahun ini, Jakarta dipercaya menjadi tuan rumah ke-13.
Salah satu tonggak penting terjadi di Kuala Lumpur, ketika istilah “Pesta Penyair Nusantara” diubah menjadi “Pertemuan Penyair Nusantara”. Perubahan ini dimaksudkan agar PPN tidak sekadar seremonial, melainkan forum dialog dan pertukaran gagasan yang lebih bermakna.
“Setiap PPN selalu melahirkan antologi puisi bersama. Jika dikumpulkan, ia akan membentuk peta perkembangan perpuisian di lima negara serumpun. PPN juga menghasilkan banyak makalah sastra, meski sayangnya belum dibukukan,” ujar Ketua Panitia, Ahmadun Yosi Herfanda.
Ia menambahkan, penyelenggara tengah menyiapkan agenda baru yang lebih kreatif, termasuk penerbitan antologi pilihan 19 tahun PPN serta kumpulan makalah penting dari PPN I hingga XIII.
Selain itu, pernah muncul gagasan penghargaan sastra versi PPN. Anugerah Penyair Nusantara sempat direkomendasikan, tetapi belum berjalan konsisten. Ke depan, ini bisa diwujudkan sebagai bentuk apresiasi.
Menurutnya, PPN bukan sekadar ajang mempererat persaudaraan melalui puisi. “Ia bisa memberi arti lebih—menjadi wadah yang relevan dengan zamannya sekaligus warisan kultural yang terus hidup,” imbuhnya.
Selama ada komunitas yang berkomitmen dan pihak yang bersedia menjadi tuan rumah, Ahmadun meyakini PPN akan tetap berlanjut lintas generasi. “Semoga kita diberi umur panjang untuk tetap berjumpa di PPN berikutnya,” tutupnya.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan