Koster Paling Menonjol dalam Kedisiplinan di Retret IPDN
DIKSIMERDEKA.COM, JATINANGOR – Hari kedua retret kepemimpinan kepala daerah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, dimulai sejak subuh. Para peserta menjalani olahraga pagi pukul 05.30, disusul sarapan pukul 07.00, dan pembukaan resmi oleh Menteri Dalam Negeri pukul 08.00.
Sepanjang hari hingga malam, para kepala daerah digembleng dengan materi pertahanan dan keamanan yang disampaikan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Materi geopolitik global dan dampaknya terhadap pembangunan dan kehidupan nasional serta daerah dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Gubernur Bali Wayan Koster termasuk yang paling menonjol dalam kedisiplinan. Ia mengaku menikmati tidur di barak praja IPDN yang dingin dan nyaman.
“Jam 10 malam sudah masuk kamar. Udara luar dingin, jadi baraknya terasa sangat nyaman,” ujar Koster saat konferensi pers, Senin (23/6).
Retret ini menjadi pengalaman pertama Koster mengikuti kegiatan dengan pendekatan militer, lengkap dengan aturan ketat soal waktu dan pola hidup. Salah satu yang cukup mengejutkan adalah disiplin makan bersama yang dijalankan layaknya pelatihan militer.

“Ketukan pertama tanda mulai makan, ketukan kedua selesai. Kalau belum selesai makan, ya harus berhenti. Hari ini harus lebih kompak,” kata Koster sambil tersenyum.
Kendati penuh tantangan, Koster menyatakan siap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga Kamis (26/6). “Kami memang menunggu momen seperti ini. Jadi, ya sangat siap,” tegasnya.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, turut membenarkan adanya kejutan kecil yang dialami para kepala daerah saat sesi makan. Banyak dari mereka belum terbiasa dengan aturan waktu makan yang hanya berlangsung selama dua lagu diputar.
“Tadi ada kepala daerah cerita, makannya baru tiga perempat, eh, sudah bunyi lonceng. Langsung berhenti,” ungkap Bima.
Menurutnya, semua ini merupakan bagian dari pembentukan karakter dan pembiasaan disiplin ala IPDN. “Begitu duduk langsung sambar pisang. Di sini nggak bisa begitu. Semua harus sesuai komando,” tutup Bima.

Tinggalkan Balasan