DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Benteng Kedungcowek Surabaya menyimpan banyak narasi sejarah. Salah satunya tentang heroisme para pemuda mengusir kapal perang Inggris yang ingin menjajah Indonesia kembali.

Meski menyimpan nilai sejarah yang penting bagi bangsa, saat ini Benteng Kedungcowek justru dalam kondisi kritis.

Hal tersebut coba dipotret oleh Mahasiswa Doktoral Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Yulius Widi Nugroho dalam Disertasi ‘Fotografi Puisi Sebagai Media Kritik dan Pelestarian Benteng Kedungcowek’ yang dipajang dalam pameran Fotografi Puisi, bertempat di Bron Cafe, Denpasar, Selasa (2/07/2024).

Baca juga :  Unud Gelar Sosialisasi Persamaan Persepsi Beban Kerja Dosen

Yulius mengatakan pada awalnya Benteng Gedungcowek yang merupakan warisan kolonial Belanda dibangun dengan tujuan mengusir perompak di kawasan perdagangan Surabaya dan Madura yang ketika itu secara ekonomi tumbuh dengan pesat.

“Waktu itu di kawasan di sekitar jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) ekonomi tumbuh dengan pesat. Oleh karena itu didirikan benteng Kedungcowek untuk mengusir para perompak dari sana,” terangnya.

Kemudian, pada era mempertahankan kemerdekaan, Kedungcowek difungsikan sebagai benteng pertahanan untuk mengusir kapal-kapal perang Inggris.

“Pejuang-pejuang kita menyerang kapal Inggris yang parkir disitu (Selat Surabaya dan Madura) cuma kalah amunisi jadi banyak yang gugur juga,” terangnya.

Baca juga :  Gubernur Koster Minta ISI Denpasar Bangkitkan Kekayaan dan Kejayaan Budaya Bali

Lalu, pada era kemerdekaan kata Julius, Kedungcowek digunakan TNI sebagai gudang peluru. Namun, setelah TNI memiliki gedung baru untuk penyimpanan peluru, Kedungcowek kemudian ditinggalkan. Hal ini membuat Benteng Kedungcowek terbengkali dan tidak terurus.

Kondisi itulah yang menginpirasi Julius melakukan kritik sosial kepada pemerintah dan masyarakat Surabaya agar memperhatikan Benteng Kedungcowek.

Melalui jempretan foto yang dibumbui dengan puisi, Julius mencoba memberikan pesan tentang bagaimana kondisi mengenaskan dari Beteng Kedungcowek.

Kemudian pada saat yang sama juga mengkritik sikap pemerintah dan masyarakat Surabaya yang terkesan abai terhadap keberadaan situs sejarah yang sangat strategis bagi bangsa Indonesia.

Baca juga :  Beri Kuliah Umum, Koster Dipuji sebagai Pimpinan Peduli Budaya Bali

“Dengan retakan, tumbuhan liar, dan tanda-tanda waktu yang berlalu. Puisi-puisi yang menyertai menawarkan kritik sosial mengenai kondisi Benteng yang terabaikan, dan penting untuk dilestarikan warisan budaya dan sejarah,” terangnya.

“Inti pesanya adalah bahwa Kedungcowek ini benar-benar terabaikan. Padahal ia menyimpan kisah-kisah heroik yang tentunya tidak boleh hilang. Karena kita hidup berbangsa kan butuh semangat,” terangnya.

Reporter: Agus Pebriana