DIKSIMERDEKA.COM, KLUNGKUNG, BALI – Ketut Swastika ayah dari Putu Satria Ananta Rustika yang menjadi korban penganiayaan hingga meninggal dunia di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) awalnya mendapat kabar bahwa anaknya (Putu Satria) meninggal dunia sehabis olahraga jalan santai.

“Awalnya saya mendapatkan info dari istri bahwa anak saya (Putu, red) meninggal karena serangan jantung seusai olahraga, begitu pula yang beredar di pemberitaan,” ujar Swastika saat ditemui di rumah duka, Senin (6/5/2024).

Lebih lanjut ia menyebut awalnya kabar tersebut diterima oleh istrinya Ni Nengah Rusmini yang saat itu berdinas di Rumah Sakit Daerah (RSUD) Kabupaten Klungkung.

Baca juga :  Perempuan Korban Penganiayaan WNA Bersimpuh dan Haturkan 'Pejati' Memohon Keadilan

“Istri saya yang mendapat kabar itu pertama langsung shock, kemudian menelepon saya minta di jemput di tempat dinasnya di RSUD Klungkung dan merencanakan untuk berangkat ke Jakarta,” sambung Swastika.

Swastika menyebut dirinya dan keluarga merasa sangat terpukul atas kejadian yang merenggut nyawa putra sulungnya tersebut.

“Jujur dengan kejadian ini kami dari keluarga merasa sangat terpukul atas kepergian Putu yang mendadak ini, kalau meninggal karena serangan jantung kami tidak percaya karena anak kami (Putu, red) rajin berolahraga dan sebelum masuk STIP sudah melakukan cek kesehatan,” terang Swastika.

Baca juga :  Ditawari Beasiswa, Adik Almarhum Putu Satria: Yang Kami Inginkan Saat Ini Keadilan

Ia menambahkan bahwa dalam kesehariannya Putu Satya sama sekali tidak pernah merasakan tidak nyaman selama mengikuti pendidikan di STIP.

“Kami selalu berkomunikasi dan anak saya setiap di tanya mengungkapkan semuanya baik-baik saja sehingga kami berpikiran tidak terjadi apa-apa, apakah anak saya di doktrin seperti itu saya tidak paham,” tegas Swastika.

Terakhir ia berharap agar pihak berwajib untuk memproses para pelaku yang terlibat dengan hukuman yang seberat-beratnya.

“Kami dari pihak keluarga meminta agar pihak terkait penegakan hukum dengan adil, sampai saat ini kami tidak bisa menerima atas kepergian anak kami, semoga pelaku dihukum seberat-beratnya,” pungkas Swastika.

Baca juga :  KMHDI Minta Kasus Pembunuhan Taruna di STIP Jakarta Diusut Tuntas

Sementara itu Ketua STIP Jakarta Ahmad Wahid saat dihubungi melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp oleh wartawan tidak memberikan jawaban, indikator pesan menunjukan bahwa pesan tersebut telah terkirim.

Untuk diketahui sebelumnya Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara, Putu Satria Ananta Rustika, menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh seniornya pada Jumat (3/5/2024) pagi, hingga meninggal dunia.

Reporter: Dewa Fathur