DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pariwisata acap kali digadang-gadang sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat Bali. Kendati demikian, pariwisata nyatanya juga merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat Bali itu sendiri.

“Bagi Bali, Pariwisata adalah sebuah peluang sekaligus tantangan,” ujar Prof. Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par kepada wacanabali.com, Jumat (2/6/2023).

Baca juga :  Virtual Sales Mission: Upaya 'Jemput Bola' Pemkot Denpasar Pulihkan Pariwisata

Menurutnya, pariwisata semestinya sejalan dengan landasan pembangunan Bali yang berbasis Tri Hita Karana.

“Ini bisa diimplementasikan dalam gerakan-gerakan yang mendukung terhadap pelestarian budaya, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan menjaga kelestarian lingkungan Bali,” imbuhnya.

Baca juga :  Raja-Raja Nusantara dan Mancanegara Akan Bertemu di Bali

Lebih lanjut, pihaknya berujar terdapat berbagai kontribusi yang dapat dilakukan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

“Palemahan (hubungan antara manusia dengan alam, red) misalnya soal tanah alih fungsi. Salah satunya, bisa digerakkan kesadaran untuk melahirkan petani muda modern yang bisa mensuplai kebutuhan-kebutuhan di hotel seperti sayur dan buah-buahan,” ungkap akademisi pariwisata budaya dan ilmu agama ini.

Baca juga :  Bali Raih Penghargaan Response Rate Tertinggi Pertama dalam Sensus Penduduk Online 2020

Dikonfirmasi secara terpisah, Ketua Majelis Desa Adat Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menyebutkan, sudah saatnya pariwisata Bali menyasar turis-turis berkualitas. “Bali perlu banyak turis, tapi yang berkualitas,” tandasnya.