DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali menargetkan dapat terbentuk fraksi di DPRD tingkat I ataupun tingkat II pada Pemilu 2024 atau sedikitnya mendapat 4 kursi dewan agar dapat memaksimalkan pengawalan aspirasi masyarakat.

“Kalau kita tidak punya fraksi kan kursi kita lemah. Seperti kita (PSI) di Provinsi Bali kan hanya satu dan gabung dengan Hanura dan Nasdem. Tidak bisa kita ngotot karena kekuatan yang lain lebih besar,” ungkap Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PSI Bali, Nengah Yasa Adi Susanto di Denpasar, Kamis (1/12/2022).

PSI Bali sendiri saat ini tercatat hanya memiliki 1 dewan di DPRD Provinsi dan 2 di DPRD Kota Denpasar. Jika mendapat amanat rakyat, Nengah Yasa mengatakan PSI akan bekerja maksimal untuk mengawal aspirasi rakyat sebagaimana dilakukan PSI di daerah-daerah lainya yang sudah memiliki fraksi.

Baca juga :  Alokasi Kursi DPRD Kota Denpasar Pemilu 2024 Tetap 45

“DPRD kan hari ini sepi-sepi saja, tidak banyak perdebatan, tidak banyak diskusi-diskusi terkait dengan penyelamatan anggaran. Sepertinya eksekutif dan legislatif itu selalu sejalan. Jika PSI Bali diberikan kesempatan masuk ke sana kami akan mengawal seperti yang kami lakukan di daerah-daerah lain yang memiliki fraksi, contohnya di Jakarta dan Tangerang,” katanya.

Dalam rangka mewujudkan target PSI untuk membentuk fraksi di DPRD tersebut, Nengah Yasa mengatakan, PSI Bali tengah melakukan rekrutmen bakal calon anggota Legislatif (Bacaleg). Rekrutmen tidak saja untuk pengurus dan anggota PSI, tapi terbuka untuk masyarakat. 

“Dimana nanti Bacaleg tersebut kita seleksi dulu secara administratif. Disamping itu kita juga memastikan bahwa Bacaleg ini DNA-nya (idealisme) harus sesuai dengan kita (PSI) yaitu anti korupsi dan anti intoleransi. Jadi kalau sudah ini dipenuhi kita akan seleksi lagi untuk menentukan skala prioritas,” terangnya.

Baca juga :  DCS Diumumkan, Bawaslu Bali Siap Terima Sengketa Bacaleg

Ia pun mengatakan bahwa PSI sangat siap dan optimis dalam menyambut Pemilu 2024. Hal ini lantaran struktur pengurus PSI lebih matang dan solid ketimbang Pemilu 2019 kemarin dimana tenaga, waktu dan pikiran dihabiskan untuk persiapan verifikasi partai. 

“Tahun 2019 banyak sekali kita kehabisan waktu untuk verifikasi sehingga kita tidak punya banyak waktu. Partai ini kan berdiri tahun 2014 berdiri, kemudian hampir 3 tahun kesibukan kita menyiapkan infrastruktur kepengurusan di 34 provinsi itu memakan waktu cukup besar sehingga kita tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan pengisian orang di dapil-dapil,” jelasnya.

Baca juga :  Rentan Temuan, Bawaslu Bali Ingatkan Jajarannya Mitigasi Kerawanan Kampanye

Sedangkan pada Pemilu 2024, lanjutnya, PSI Bali lebih siap ditandai dengan kepengurusan di tingkat kecamatan yang hampir 75 persen. Disamping itu gerakan PSI Bali juga sangat masif dan memiliki modal suara yang cukup. 

Terlebih menurutnya pada Pemilu 2024 nanti yang menjadi pemilih terbesar adalah kelompok muda dan milenial dimana memang PSI sebagai partai memiliki konsen terhadap kelompok tersebut. Hal ini karena kampanye dan program PSI sering beririsan dengan kelompok muda dan milenial

“Pemilih milenial itu kan umumnya banyak bermain di media sosial. Mereka sudah tahu gerakan-gerakan yang selama ini kita lakukan melalui media sosial sehingga mereka paham lah siapa yang mereka akan pilih nantinya di 2024,” tandasnya.