Kemenkes Akan Kuatkan Posyandu untuk Pencegahan dan Deteksi Dini
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Dalam upaya tindak pencegahan dan deteksi dini penyakit berbahaya, Kementerian Kesehatan tengah melakukan penguatan Pusat Layanan Terpadu (Posyandu) di seluruh Indonesia sehingga peran Posyandu sebagai pusat pelayan kesehatan yang sangat dekat dengan masyarakat dapat berfungsi optimal.
Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Maria Endang Sumiwi, saat mengunjungi Posyandu Tegeh Sari, Denpasar, Sabtu (19/11/2022). Menurut Endang Sumiwi tindakan pencegahan dini penyakit berbahaya kepada masyarakat dapat dilakukan dengan tindakan promotif dan preventif.
“Promotif dan preventif ini artinya apa?, artinya harus menjangkau orang-orang sehat supaya dia tetap sehat jangan sampai sakit. Orang sehat kita banyak jumlahnya yakni sebesar jumlah penduduk Indonesia 270 juta,” terang Endang Sumiwi.

Ia pun melanjutkan, untuk menjangkau 270 juta masyarakat Indonesia tidak bisa menggunakan Puskesmas ataupun Klinik. Hal ini lantaran dua layanan kesehatan tersebut jumlahnya sangat terbatas yaitu sebanyak 10 ribu Puskesmas dan 20 ribu klinik kesehatan.
Menurutnya, berdasarkan hitungan Menteri Kesehatan diperlukan minimal 300 ribu layanan kesehatan untuk menjangkau seluruh rakyat Indonesia mendapat akses kesehatan. Lebih lanjut, menurutnya, Posyandulah sejauh ini yang jumlahnya sudah mencapai 300 ribu dan tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk itulah penguatan dan transformasi Posyandu tengah dilakukan dalam rangka pencegahan dan pendeteksian dini penyakit yang bisa menjangkau 270 juta penduduk Indonesia.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah transformasi Posyandu yang akan dilakukan yaitu transformasi standar pelayanan dengan memperluas jangkauan Posyandu yang tidak hanya melayani ibu dan anak tapi juga remaja, usia produktif serta lansia.
Disamping itu, akan dilakukan standarisasi alat pelayanan kesehatan berdasarkan standar yang sudah diputuskan sesuai Peraturan Kemenkes. Termasuk juga standarisasi alat pemeriksaan atau screening di setiap Posyandu.
“Kemudian untuk kader Posyandu kita akan melakukan perbaikan kompetensi. Jadi itulah transformasi yang kita akan lakukan. Ini tidak akan bisa berhasil tanpa bantuan semua pihak dari kepala daerah, pihak swasta dan lain-lain,” katanya.
Disamping itu ia juga menjelaskan akan ada penambahan 3 pelayanan imunisasi mencakup Imunisasi HVP, imunisasi Rotavirus, dan imunisasi PCV. Pada saat bersamaan juga akan ditambah pelayanan screening di setiap Posyandu.
“Yang masih sehat kita imunisasi supaya tidak sakit. Nah, yang tidak bergejala tapi sebetulnya sudah ada faktor resiko kita lakukan screening. Jadi Kita menaruh 14 screening ke masyarakat Indonesia agar supaya ketahuan (penyakitnya) diawal,” terangnya.
Sebagai contoh yaitu Kanker Payudara. Dimana jika dihitung penderita Kanker Payudara Indonesia jumlahnya sedikit dibandingkan negara lain. Akan tetapi kematian justru lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain.
“Jadi sedikit itu bukan karena tidak ada. Tapi karena kita tidak menemukan. Tapi ketika ditemukan sudah parah sehingga kematian tinggi. Jadi ini yang kita ingin ubah yakni pendekatan kita yaitu, yang sehat kita cegah sakit. Sementara yang sakit tapi tidak bergejala kita deteksi dini,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan