DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pembahasan transisi energi sebagai salah satu agenda penting dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali bulan November 2022 mendatang terancam gagal menemukan solusi konkrit. 

Sebabnya, pertemuan tingkat menteri negara-negara G20 untuk isu transisi energi tidak mencapai Komunike atau pernyataan komitmen bersama. 

Demikian diungkapkan Finance Campaigner 350 Indonesia, Suriadi Darmoko, dalam acara Festival Demokrasi Energi, bertempat di Hallo Coffee, Denpasar, Sabtu (24/09/2022).

“Rangkaian panjang pertemuan hanya menghasilkan chair’s summary dan kesepakatan Bali COMPACT yang pelaksanaanya secara sukarela. Atas hal tersebut, menurut saya upaya untuk melakukan transisi energi sebagai upaya untuk memenuhi kesepakatan Paris gagal,” kata Suriadi Darmoko.

Baca juga :  Puncak KTT G20 Digelar, Terdapat Pengalihan Ruas Jalan

Suriadi Darmoko menerangkan, salah satu isu prioritas pada G20 adalah transisi energi berkelanjutan dengan kelompok kerja di bawahnya yaitu energy transition, environment and climate sustainability. 

Dimana pembahasan isu tersebut mengarah kepada tujuan bersama, yakni untuk mencapai kesepakatan Paris, yaitu membatasi kenaikan suhu global sampai di angka 1,5 derajat celcius tingkat pra industri.

Baca juga :  Guru Besar UGM : RI Terancam Krisis BBM! Tanpa Pasokan Baru Hanya Bertahan 22 Hari

Akan tetapi menurutnya, proses panjang dalam kelompok kerja yang hanya menghasilkan chair’s summary dan kesepakatan Bali COMPACT yang Jika disepakati pada KTT G20, maka tidak ada tanggung jawab dari negara-negara G20 menjalankan kesepakatan tersebut. 

Padahal menurut Suriadi Darmoko, 75 persen permintaan energi dunia berasal dari negara G20. Berdasarkan data tersebut dapat diartikan bahwa krisis iklim yang terjadi hari ini turut disumbangkan atau diakibatkan oleh negara G20. 

Baca juga :  Komitmen Indonesia Majukan Sektor Pangan Patut Dicontoh Negara G20

“Meski sebagai sumber dari krisis iklim, urgensi penanganan krisis iklim sepertinya tidak menjadi prioritas dalam G20,” terang Suriadi Darmoko

Kesukarelaan negara-negara G20 ini, lanjutnya, hanya menjauhkan kita untuk mencapai tujuan bersama yang tertuang dalam Kesepakatan Paris. 

“Negara G7 dan G20 tidak ada kemauan politik untuk transisi ke 100 persen energi terbarukan, malah justru menguatkan adalah narasi energi bersih yang telah ditunggangi oleh solusi-solusi palsu energi fosil,” ujarnya. (gus)