ITB STIKOM Bali Ciptakan Prototipe Metaverse “Proyek Bali 1928”
Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti, Made Marlowe Makaradhwaja Bandem. (Foto: istimewa)
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Kehadiran masyarakat ke dalam dunia virtual di waktu mendatang menjadi sebuah keniscayaan seiring semakin canggihnya perkembangan teknologi. Seperti diketahui, konsep dunia virtual saat ini tengah menjadi diskursus hangat di masyarakat pasca perusahaan Meta Facebook mengumumkan proyek dunia virtual bernama “Metaverse” miliknya yang tengah dikembangkan.
Kondisi ini pun menjadi perhatian serius dari ITB STIKOM Bali, sebagai salah satu perguruan tinggi IT swasta terbaik di Indonesia. Selain menjadikan ide pengembangan dunia virtual sebagai kajian dalam berbagai perkuliahan, ITB STIKOM Bali saat ini dikatakan telah dan tengah mengembangkan proyek Arsip Bali 1928.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti, Made Marlowe Makaradhwaja Bandem yang juga selaku Koordinator Proyek Bali 1928, dalam acara media gathering STIKOM Bali di Duta Orchid Garden, Tohpati Denpasar, Rabu (9/02).

“Kami menjadi aksi pertama yang mendapatkan lisensi untuk menyebarkan seluruh dokumen bersejarah tersebut melalui internet. Sejak diluncurkan pertama kali di internet, Bali 1928 langsung mendapatkan respon begitu baik dan banyak dari kalangan masyarakat. Dari hal tersebut, kami menciptakan sebuah prototipe Bali 1928 dalam bentuk Metaverse (dunia virtual) pertama di Indonesia,” ungkap Malowe.
Proyek Bali 1928 ini sendiri merupakan inisiatif ITB STIKOM Bali bersama Dr Edward Herst dan berbagai pusat arsip di seluruh dunia untuk mengarsipkan kembali warisan pusaka seni dan budaya, hingga memulangkan kembali arsip tentang Pulau Bali.
Proyek Bali 1928 dikatakan sudah berhasil memulangkan puluhan jam film tahun 1930-an, 111 rekaman tabuh dan gending Bali 1928-1929, dan puluhan foto terkait masa kesejahteraan masyarakat Bali pada tahun 1930-an. Melalui proyek ‘Metaverse’ Bali 1928 ini, kata Marlowe, akan pengunjung akan dapat melakukan banyak hal, mulai dari hanya melihat koleksi hingga berinteraksi dengan antar pengunjung.
“Tidak hanya melihat foto dan video tentang Bali 1928, tetapi kita bisa berinteraksi dengan sesama pengunjung dari negara berbeda secara virtual menggunakan avatar diri sendiri,” tambah Marlowe.
Proyek prototype ‘Metaverse’ Bali 1928 ini sendiri dikatakan baru berjalan selama sebulan, dan akan terus mengalami perbaikan-perbaikan. Marlowe berharap, dengan hadirnya Metaverse Bali 1928 dapat mengumpulkan orang-orang yang tertarik dengan arsip Bali 1928.
“Proyek Metaverse Bali 1928 ini akan banyak melibatkan dari kalangan budayawan, sejarawan, dosen, mahasiswa. Dalam wadah virtual ini, akan tercipta komunikasi dan kolaborasi antar orang-orang tersebut,” kata Marlowe.
Selain pengenalan proyek Bali 1928, dalam media gathering tersebut ITB STIKOM Bali juga menggelar diskusi terkait perkembangan teknologi dunia virtual kepada awak media. Materi diskusi dipaparkan oleh Dedy Panji Agustino, S.Kom MM.Si dari Inkubator Bisnis ITB STIKOM.

Dalam diskusi tersebut Panji mengatakan kehadiran Metaverse atau dunia virtual akan menghadirkan ekosistem baru yang memunculkan banyak peluang dan pada akhirnya akan membentuk kultur baru.
“Sharing content akan menjadi jauh lebih besar di Metaverse dan beberapa lini bisnis di dunia nyata akan muncul secara organik di dunia digital. Banyak ekosistem yang muncul seperti, digital content creator, dan ahli-ahli teknologi informasi menjadi peran penting dalam ekosistem tersebut,” kata Panji.
Untuk itu, Panji mengatakan teknologi Metaverse akan dikembangkan di Inkubator ITB STIKOM Bali untuk mengasah kemampuan mahasiswa maupun alumni ITB STIKOM Bali sendiri untuk menciptakan Start Up baru.
Acara media gathering ITB STIKOM Bali dengan media ini sendiri digelar dengan tajuk “Sinergi ITB STIKOM Bali dan Media Dalam Transformasi Budaya Berbasis Digital”. Acara turut dihadiri oleh Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti Prof Made Bandem, Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti, Drs Ida Bagus Dharmadiaksa M.Si, Sekretaris Yayasan Widya Dharma Shanti, Lilis Yuningsih, Rektor ITB STIKOM Bali Dr Dadang Hermawan, dan para Dosen. (*/sin)

Tinggalkan Balasan