Tantangan Ekonomi Bali ke Depan Semakin Berat, Ini Kata Pengamat
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Penyebaran Pandemi Covid-19 yang meluas dibarengi dengan kebijakan pembatasan sosial dalam bentuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memberikan tantangan pada perekonomian Bali. Tantangan ekonomi Bali disinyalir ke depan akan sangat Berat.
Ini mengingat pemulihan ekonomi secara global diprediksi baru membaik di tahun 2025. Berbagai indikator di dalamnya, salah satunya masyarakat masih cenderung menyimpan pundi-pundi uangnya dalam waktu yang panjang, sehingga sektor pariwisata pun juga berpotensi pulih dalam waktu yang lama.
Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat ekonomi Bali, I Gusti Alit Suputra SE, MM. Ia menerangkan bahwa kondisi ekonomi Bali begitu mengkhawatirkan, jatuhnya sektor pariwisata di tengah pandemi Covid-19 pada giliranya berimbas terhadap sektor lainnya diluar pariwisata.
Kondisi inilah yang menurutnya menyebabkan Bali masuk ke dalam kelompok ekonomi yang selalu minus di empat kuartal secara beruntun.
“Sebagai contoh, untuk Kota Denpasar, Kab. Badung, dan Kab. Gianyar, dampak pandemi paling terasa karena mayoritas aktivitas pariwisata ada di daerah-daerah itu sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kebanyakan disumbangkan sektor pariwisata juga sangat menurun”, ujar Alit Suputra di Denpasar, Jumat (13/8).
Lebih lanjut, penutupan akses masuk bagi wisatawan sekaligus penutupan tempat wisata, sebutnya, telah menyebabkan terhentinya berbagai jenis usaha yang berafiliasi dengan pariwisata seperti perdagangan besar dan eceran, penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman,industri pengolahan, industri jasa, hingga transportasi menyebabkan semakin merosot pendapatan masyarakat bali secara umum.
“Belum lagi ditambah dengan aturan pemerintah yang menerapkan program-program karantina wilayah seperti PSBB hingga PPKM (pembatasan kegiatan masyarakat, red) yang tentunya menambah lagi kecemasan serta memberikan dampak resesi ekonomi secara berkelanjutan,” sebut Alit.
Ia juga mengatakan, tantangan lain dalam ekonomi Bali yaitu bagaimana caranya sektor lain diluar pariwisata dapat dioptimalkan dengan baik.
Menurutnya, pemerintah harus memiliki program yang mendukung sektor UMKM dengan mengoptimalkan dana bantuan sosial agar menambah gairah serta semangat bagi masyarakat Bali yang paling besar terkena dampak. Upaya lainya adalah menggelar pasar gotong royong dalam rangka menyerap hasil pertanian dan perikanan.
Upaya tersebut menurutnya perlu dilakukan sembari berbenah memperbaiki fasilitas pariwisata agar aman dan nyaman bagi pengunjung.
“Pertanyaannya apakah sektor lainnya diluar pariwisata mampu di-organize (diatur,red) dengan baik sehingga bisa menopang ekonomi bali yang runtuh akibat sektor pariwisata seperti sektor pertanian perkebunan serta perikanan, sektor umkm, e-commerce, dan lainnya,” tandasnya. (Gus/Sin)

Tinggalkan Balasan