DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Dugaan lolosnya ratusan pendatang tanpa dilengkapi surat hasil pemeriksaan Rapid Test di Pelabuhan Gilimanuk menuai sorotan tajam banyak pihak. Lemahnya pengawasan dari Gugus Tugas Gabungan Penanggulangan Covid 19 disinyalir jadi pemicu jebolnya pintu masuk Bali bagian barat itu.

Terkait kondisi ini, AA Gede Agung Aryawan, S.T., mengatakan petugas harusnya dapat lebih tegas dan ketat. Terutama pejabat bertugas di Kabupaten Jembrana harus punya rasa malu dengan pecalang.

Menurut Kelian Sakah Pemogan ini, pecalang sudah ngayah 3 bulan lebih dari sebelum Nyepi melawan penyebaran virus covid-19. Dikatakan hasilnya terbukti mendapat apresiasi dari presiden Joko Widodo sebagai penanganan terbaik se Indonesia.

Baca juga :  Libur Lebaran Wisatawan Mulai Padati Bali, Kapolri Minta Prokes Diperketat

“Apa tidak ada rasa empati terhadap rekan-rekan pecalang yang selama ini mendukung pekerjaan pemerintah ? Meski pelabuhan Gilimanuk bukan menjadi otoritas penuh dari kabupaten Jembrana, harusnya bisa memikul kepercayaan diberikan seluruh masyarakat Bali sebagai punya wilayah terdekat.”

“Bayangkan pendatang bisa lolos tanpa bawa persyaratan. Tanpa rapid test. Bahkan tanpa kartu identitas. Ini jelas-jelas kekonyolan nyata. Malu dong sama pecalang, kerja pecalang jadi sia-sia,” terang Kelian Adat Banjar Sakah, Pemogan, A.A. Gede Agung Aryawan akrab disapa Gung De, Sabtu (30/5).

Gung De juga menyoroti perbedaan mencolok antara petugas penjaga pintu masuk Bali yang ditunjang fasilitas lengkap. Dibandingkan dengan semeton pecalang yang tidak digaji. Menurut Gung De tidak ada istilah Gilimanuk bocor bila petugas menjalani ‘swadharmaning negara’ alias punya integritas.

Baca juga :  Dewa Indra: Pengelompokan Dari Sumber Infeksi Penting untuk Strategi Penanganan

“Nangkap ikan keluar dari satu lubang kok tidak bisa ? Mental oknum-oknum seperti ini yang patut dipertanyakan. Tidak adakah rasa sayang mereka untuk Bali ?” tanyanya.

Bila petugas tidak sanggup, Gung De menyarankan pemerintah secara terbuka minta tolong kepada pecalang yang telah berulang kali membuktikan rasa tindih dan bakti kepada tanah Bali. “Aparat harus meniru semeton pecalang ! Dengan segala keterbatasan mereka mengabdi tulus demi tanah kelahiran,” terangnya.

Senada dikata Gung De, Ketua Pecalang Bali atau Manggala Agung Pasikian Pecalang Bali, I Made Mudra mengungkap, bagaimana Satgas Gotong Royong Desa Adat tulus ‘ngayah’ lantaran begitu cinta sama Bali. Harusnya sebagai petugas memiliki pendidikan lebih tinggi bisa menghargai.

Baca juga :  Percepatan Penanganan COVID-19, Berikut Langkah-Langkah yang Diambil Gubernur Koster

“Saya kemarin saat ada isu beredar di media sosial sampai dihubungi Pelaksana Satgas Provinsi Bali diajak mengecek langsung ke Gilimanuk. Begitu juga kami Pecalang akan dilibatkan ikut turun langsung ke Banyuwangi untuk membantu tugas-tugas Satgas Provinsi, yang dikomandani Kasat Pol PP Provinsi Bali,”

“Bahkan Satgas Provinsi sempat berpesan, agar kami memberitahu masyarakat, sama-sama ikut memantau. Jika ada ditemukan oknum nakal di Gilimanuk langsung disuruh untuk divideokan.  Jangan takut demi Bali,” tegas Mudra. (*/nai)