Pertanian Bali, Gede Setiawan: Banyak Potensi Produk yang Dapat Mendunia
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pertanian Bali akan menghasilkan produk-produk yang dapat mendunia jika saja masing-masing Kabupaten di Bali membangun produk unggulannya dengan sungguh-sungguh dan kekuatan penuh. Demikian diungkapkan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, S. P., M. Si., dalam momen Hari Tani Nasional (HTN), Kamis (24/9).
Pertanian jika digarap dengan serius katanya lebih lanjut akan memberikan efek domino yang lebih luas untuk kesejahteraan masyarakat Bali.
“Jika saja masing-masing kabupaten membangun produk unggulannya dengan serius dan kekuatan penuh serta sungguh-sungguh (saje-saje miwah seleg) maka akan muncul produk-produk yang bisa mendunia,” ungkapnya, Kamis (24/9).
Lebih lanjut Gede Setiawan menjelaskan bahwa di masing-masing kabupaten di Bali sudah memiliki produk-produk unggulan.
“Jembrana dengan Kakaonya, Gianyar dengan Cabainya, Bangli dengan Kopinya, Karangasem dengan Salaknya, Tabanan dengan Padinya, Buleleng dengan Anggurnya, Badung dengan Asparagusnya dan Denpasar dengan Urban Farming (pertanian kota, red),” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyoroti cara-cara bertani yang mengejar produksi semata tanpa memperhatikan lingkungan dan penggunaan zat kimia untuk meningkatkan produksi ternyata tidak pas membangun pertanian jangka panjang.
“Penggunaan pupuk anorganik semakin banyak, pestisida kimia semakin banyak, namun ternyata produksi semakin menurun. Berarti ada yang salah dengan cara-cara bertani selama ini,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Bali di era Gubernur Koster yang paling tidak telah menelurkan dua regulasi untuk memperkuat pertanian Bali, yakni Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 99/2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali dan Peraturan Daerah (Perda) 8/2019 tentang Sistem Pertanian Organik.
Regulasi tersebut menurutnya, dasar yang baik dan merupakan salah satu bagian dalam tiga kerangka pembangunan pertanian yang terdiri dari petani, swasta, dan pemerintah. “Kebijakan untuk melindungi produk lokal dan membantu untuk memasarkannya saya rasa merupakan ide yang sangat baik. Namun, swasta memerlukan produk yang bermutu,” ungkapnya.
Komitmen untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah, katanya lebih lanjut, harus diikuti dengan aksi sosial atau gerakan yang dimulai dari hal kecil, dan mulai saat ini juga, sehingga cita-cita memajukan pertanian Bali dapat diwujudkan.
Sementara itu, bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini (Kamis, 24 September 2020), Gede Setiawan mengatakan Hari Tani memberikan makna pada kita bahwa pertanian itu penting.
“Hari tani sebagai pengingat bagi saya bahwa saya harus konsisten berpihak pada petani dengan terus membangun pertanian walaupun dunia telah berubah. Hari tani mengingatkan kembali bahwa pertanian juga mesti berubah,” jelasnya.
Hari Tani lanjutnya menjadi pengingat bagi diri kita untuk senantiasa introspeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat untuk pertanian. “Sebagai seorang petani, hari tani menjadi pengingat untuk ‘mulat sarira’ atau introspeksi diri,” tutup Gede Setiawan yang juga merupakan seorang petani sekaligus pelaku usaha pertanian di Bali Utara. (dar/sin)

Tinggalkan Balasan