DIKSIMERDEKA.COM TEL AVIV – Posisi Benjamin Netanyahu kian terpojok. Menyadari koalisinya gagal mengamankan kursi mayoritas dalam Pemilu Israel, sang Perdana Menteri melempar tudingan liar ke segala arah. Tak hanya menuduh partai-partai Arab Israel mencuri suara, kubu Netanyahu kini menyeret nama negara asing, mulai dari aliran dana Qatar hingga ancaman peretas Iran.

Netanyahu bersama Partai Likud mendesak badan intelijen dalam negeri, Shin Bet, untuk turun tangan mengusut dugaan jual beli suara di komunitas Palestina di Israel yang diklaim dibiayai pihak asing. Hakim Mahkamah Agung Israel yang beraliran konservatif sekaligus Ketua Komite Pemilihan Pusat, Noam Sohlberg, bahkan secara resmi meminta Shin Bet menyelidiki tuduhan bahwa partai Arab, Ra’am, menerima aliran dana dari Qatar.

Dalam laporan The Guardian, Partai Likud menyebut skandal ini sebagai “Raamgate”, dan mengklaimnya sebagai “gempa politik,” sembari menyerukan, “Pemilu Israel telah dicuri!”

Namun, Ketua Partai Ra’am, Mansour Abbas, menepis keras tuduhan itu. Ia menegaskan partainya “sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut” dan justru menyambut baik penyelidikan.

Qatar Meradang, Sebut Tudingan Netanyahu Konyol

Pemerintah Qatar langsung kebakaran jenggot mendengar nama negaranya diseret-seret dalam kisruh politik domestik Israel. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, membantah keras tuduhan yang dilontarkan oleh para politisi sayap kanan Israel tersebut.

Baca juga :  Proposal Damai Ditolak, Trump Ngamuk Siap Rebut Uranium Iran

“Kami secara kategoris membantah tuduhan bahwa Qatar telah ikut campur dalam pemilu Israel atau mendanai aktivitas apa pun yang bermaksud memengaruhi hasilnya,” tegas al-Ansari melalui akun X miliknya.

Ia menambahkan bahwa narasi kubu Netanyahu terus berubah-ubah tanpa bukti. “Mereka menuduh Qatar menyuap Benjamin Netanyahu, kelompok kiri politik Israel dan sekarang, dalam kampanye terbaru ini, suara Arab… Tuduhan ini sama-sama konyol dan berbahaya.”

Siasat Kotor Jegal Oposisi

Manuver Netanyahu ini menuai kecaman dari tokoh oposisi dan pejabat negara Israel sendiri. Pemimpin blok oposisi utama, Gadi Eisenkot, menyebut taktik ini murni akal-akalan Likud untuk mengamankan kursi Perdana Menteri.

“Sudah jelas bahwa Likud dan Netanyahu telah memulai kampanye terkoordinasi dan terorganisir yang bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu,” kata Eisenkot dalam pesan videonya.

Pihak penyelenggara pemilu pun menepis histeria kubu sayap kanan. Plt Direktur Jenderal Komite Pemilihan Pusat, Dean Livne, menyatakan “tidak ada dasar untuk klaim pelanggaran sistematis terhadap integritas pemilu.” Sumber kepolisian Israel juga mengonfirmasi bahwa hari pencoblosan berjalan lancar dengan sangat sedikit insiden.

Baca juga :  Update : Iran Targetkan Pangkalan Militer AS di Kuwait, UEA, Qatar, dan Bahrain

Ahmad Tibi, salah satu pemimpin partai Joint List (partai Arab Israel), memandang manuver Netanyahu sebagai kampanye beracun untuk menjegal oposisi yang mulai menguat. “Seluruh kampanye ini diarahkan untuk melawan Eisenkot, untuk mencegahnya, mengintimidasi, dan menakut-nakutinya agar tidak membentuk pemerintahan yang bergantung pada dukungan eksternal dari Joint List atau Ra’am,” ungkap Tibi.

Presiden Israel, Isaac Herzog, turut turun tangan membela hak pilih warga Arab. Ia memperingatkan para politikus agar tidak “mencoreng nama baik seluruh komunitas yang berusaha menggunakan hak pilihnya dan mengambil bagian aktif dalam demokrasi,” meski ia tetap mempersilakan Shin Bet mengusut tuntas klaim campur tangan asing tersebut.

Ancaman Siber Iran di Tengah Kekacauan

Di tengah memanasnya drama internal Israel, laporan dari The Telegraph memunculkan fakta baru bahwa Iran diduga kuat berupaya mengganggu jalannya Pemilu Israel minggu ini, serta Pemilu Sela Amerika Serikat minggu depan.

Seorang pejabat Iran secara blak-blakan membenarkan taktik infiltrasi tersebut. “Kami telah mencari cara untuk merekrut agen di proses pemilu rezim Amerika dan Israel,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa “kelompok siber yang kuat juga telah dibentuk untuk meretas sistem pemilu mereka.”

Pejabat Iran lainnya menyebut peretasan ini sebagai bagian dari perang proksi. “Perang bukan hanya berarti rudal dan senjata ketika kami berada di bawah blokade mereka. Itu juga berarti kami siap untuk mengganggu pemilu mereka, perbankan mereka, perjalanan mereka, dan semua sistem biasa mereka. Kami tidak memihak kandidat mana pun di mana pun, tetapi kami ingin melihat Amerika yang terbelah dan Israel yang terbelah.”

Baca juga :  Iran Ancam Serang Pangkalan AS Jika Kapal Tanker Diserang Lagi

Suara Mayoritas Melayang

Hingga 97 persen suara dihitung, komposisi parlemen Israel (Knesset) menemui jalan buntu. Koalisi Netanyahu mandek di angka 53 kursi, sementara blok Eisenkot menempel ketat dengan 48 kursi. Di sisi lain, partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel (Arab Israel) berhasil meraup 19 kursi, menjadi penentu alias kingmaker dalam pembentukan pemerintahan. Tak satupun kubu yang menyentuh angka 61 kursi untuk meraih mayoritas.

Melihat hasil pemilu yang melemahkan kelompok sayap kanan ekstrem Israel, Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, melontarkan harapan baru dari Nicosia, Siprus.

“Selama bertahun-tahun, kami telah mengulurkan tangan ke pihak Israel untuk mencapai perdamaian dengan mereka, agar Israel dan Palestina dapat hidup dalam keamanan, stabilitas, dan perdamaian,” pungkas Abbas.