Bahlil Babat Ekspor Gas ke Singapura Demi PLN, Oposisi Tetangga Langsung Kepanasan
DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Pemerintah mengambil langkah berani memotong pasokan gas bumi ke negara tetangga demi menyelamatkan nyawa PLN dan industri nasional. Kebijakan pemangkasan ekspor gas ini langsung membuat Singapura ketar-ketir.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memastikan pemotongan 31 MMBTUD atau sekitar 8 persen dari total 409,55 MMBTUD ekspor gas pipa (dari Natuna dan Sumatera) itu sah secara hukum.
“31 MM yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum. Dan kita baru sekitar 8%, terkecuali kita potong 10%, nah itu baru kita melanggar kontrak,” tegas Bahlil, Senin (26/10/2026).
Alasan utamanya adalah prioritas domestik amanat UUD 1945 di tengah shutdown sumur gas. “Nah, karena terjadi pemeliharaan, maka saya harus memprioritaskan kepentingan dalam negeri. Ada dua di situ. Satu adalah urusan PLN, yang kedua urusan industri,” jelasnya.
Keputusan ini disambut sorak-sorai Menteri Perindustrian Sarmuji. “Saya pertama tentu adalah orang yang paling bergembira ketika ada kebijakan penambahan alokasi gas untuk industri,” girangnya. Dengan limpahan gas ini, utilisasi industri diproyeksi meroket hingga 85 persen. “Selain terhadap peningkatan PDB, lapangan kerja kita juga akan lebih terjamin, anak-anak juga bisa bekerja, banyak orang yang akan senang dengan alokasi gas untuk sektor industri ini,” katanya.
Parlemen Singapura Curiga Balas Dendam Isu Kabut Asap
Dillansir Media The Independent Singapore, keputusan yang berlaku sejak Sabtu (24/10) ini rupanya bikin panas telinga tetangga. Partai oposisi terbesar Singapura, Workers’ Party (WP), meradang dan menyayangkan keputusan tersebut. Mereka bahkan curiga pemotongan ini adalah aksi balas dendam terkait isu kabut asap kebakaran hutan dan sentimen investasi finansial yang sempat memanas. WP menuntut Indonesia menghormati kesucian kontrak, mengingat 25 persen pasokan gas Singapura bergantung pada Indonesia hingga kontrak berakhir pada 2028.
Menanggapi rengekan dari seberang, Bahlil melempar sentilan tajam. Ia mengingatkan bahwa Indonesia selalu patuh kontrak dan terus memasok 146 kargo LNG dengan harga di bawah 20 dolar AS per MM, meski harga minyak dunia sedang naik.
“Jadi jangan ajarin Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga, menghargai kontrak. Indonesia ini terlalu baik. Terlalu baik. Menghargai kontrak, tapi hargai juga dong hubungan bersama antarnegara. Harus sama-sama menghargai,” pungkas Bahlil mengunci perdebatan.

Tinggalkan Balasan