DIKSIMERDEKA.COM KYIV Hubungan antara Trump dan Zelensky kini berada di titik nadir. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali bermanuver tajam. Sehari setelah meneken kesepakatan impor solar besar-besaran dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump justru menyentil Presiden Ukraina tersebut dengan menyebut negaranya butuh “pemimpin baru”.

Dilansir The Guardian, Trump menuding Zelensky tak becus mengakhiri perang dengan Rusia, sekaligus menjadikannya kambing hitam atas meroketnya harga BBM jenis solar di dalam negeri AS. Perseteruan Trump dan Zelensky ini tentu makin memanaskan peta politik global.

“Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan, karena dia sebenarnya bisa membuat banyak kesepakatan, tapi entah kenapa dia tidak pernah melakukannya,” cetus Trump.

Pernyataan pedas ini meluncur tepat saat Rusia sedang gencar membombardir warga sipil di Ukraina. Zelensky dengan getir merespons bahwa serangan mematikan tersebut tak ubahnya ucapan “terima kasih” dari Putin kepada Trump atas kesepakatan solar mereka.

Kyiv Merasa Kena Tikam dari Belakang

Zelensky tak bisa menutupi amarahnya. Kesepakatan yang diumumkan Trump pada Jumat lalu—yang berdalih demi menurunkan harga BBM jelang Pemilu Sela AS bulan November—terasa seperti menikam Kyiv dari belakang. Ironisnya, pengumuman itu dilakukan tepat ketika negosiator Ukraina sedang berada di Miami untuk perundingan damai.

Baca juga :  Ketua FIFA Gianni Infantino Dipanggil Kongres AS, Hubungan dengan Trump Diselidiki

Bagi Zelensky, manuver ini adalah “hadiah” spesial buat Putin. Dia memperingatkan, duit hasil penjualan bahan bakar itu bakal disedot Rusia untuk berinvestasi pada mesin perangnya.

“Setiap pelonggaran sanksi,” kata Zelensky, hanya akan menguntungkan Rusia, “memungkinkan mereka membunuh lebih banyak orang dan memperpanjang perang.”

Firasat buruk ini terbukti hanya dalam hitungan jam. Pejabat Ukraina melaporkan rentetan serangan Rusia yang menghantam wilayah tenggara pada Sabtu pagi menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak-anak. Retaknya komunikasi antara Trump dan Zelensky terbukti memberi celah bagi Rusia untuk makin beringas.

“Hari ini, Rusia menyampaikan rasa terima kasihnya atas pencabutan sanksi ekspor solar dengan menjatuhkan lima bom luncur di kawasan permukiman di Zaporizhzhia,” tulis Zelensky di media sosial pribadinya, Sabtu.

Baca juga :  Perang AS-Iran Buntu, Trump Makin Agresif Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah

Kemesraan Trump-Putin Dan Kalang Kabutnya Eropa

Sementara Ibu Kota Kyiv gelap gulita akibat pemadaman listrik skala besar, hubungan Washington dan Moskow justru makin hangat. Berbanding terbalik dengan panasnya tensi Trump dan Zelensky, pihak Kremlin merilis laporan pembicaraan telepon antara Trump dan Putin dengan nada berbunga-bunga. Kantor berita Rusia, Interfax, mengutip seorang ajudan yang menyebut obrolan itu “sangat berbobot dan bersahabat”.

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menelepon Zelensky untuk menegaskan “solidaritas penuhnya”, dan sepakat bertemu dalam waktu dekat. Burnham menyadari bahwa hari-hari terakhir ini sangat berat bagi Ukraina.

Kesepakatan solar ini sukses mengacaukan empat tahun tekanan finansial Barat terhadap Moskow. Sekutu Kyiv di Eropa dan NATO kini kalang kabut menyesuaikan rencana sanksi mereka. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa deal itu “memberi Moskow lebih banyak pendapatan untuk mengobarkan perang.”

Pemerintah negara-negara utama Eropa kini harus putar otak, menyeimbangkan diplomasi perdagangan dengan Trump yang plin-plan, tanpa mengorbankan dukungan untuk Ukraina.

Baca juga :  Sadis! AS Gempur Rudal Iran di Hormuz Pagi Buta

Ancaman Pemutusan Intelijen AS

Di tengah tekanan AS, Zelensky tak gentar dan berjanji akan membalas. Ia menegaskan bahwa Rusia “harus merasakan kerugiannya”. Sebagai bukti, serangan Ukraina di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia dalam 24 jam terakhir terus dilancarkan. Ukraina selalu siap mengambil “langkah de-eskalasi”, tapi hanya jika Rusia berani melakukan hal serupa.

Namun, urusan fasilitas bahan bakar Rusia kini jadi titik didih paling panas yang memperburuk hubungan Trump dan Zelensky. Trump getol menekan Ukraina agar tidak lagi mengebom kilang minyak Rusia karena khawatir memicu kelangkaan solar global. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Ukraina, kecuali Rusia berhenti menyerang infrastruktur energi mereka.

Sikap keras kepala Ukraina ini rupanya bikin kubu Trump hilang kesabaran. Laporan Financial Times membocorkan bahwa dalam pembicaraan di Miami, utusan Trump melontarkan ancaman keras: AS bisa memutus total pertukaran informasi intelijen jika Kyiv nekat tidak menghentikan serangan ke kilang Rusia.