DIKSIMERDEKA.COM PARIS – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dunia yang makin gila-gilaan bikin para pemimpin negara kaya ketar-ketir. Setelah ditekan habis-habisan oleh Donald Trump, pelepasan cadangan minyak G7 akhirnya disepakati. Mereka siap ‘buka keran’ hingga 100 juta barel cadangan minyak mentah dan solar darurat ke pasar. Langkah ini diambil sebagai jurus penyelamat untuk mengurangi beban ekonomi dan tagihan rumah tangga yang kian mencekik.

Pelepasan cadangan dari negara-negara dengan kekuatan ekonomi raksasa ini akan dikoordinasikan langsung oleh Badan Energi Internasional (IEA) dan ditargetkan rampung dalam waktu empat bulan. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Sebagai Ketua G7 saat ini—yang anggotanya meliputi Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang—Macron meresmikan langkah darurat tersebut usai menggelar rapat virtual bersama para pemimpin negara lainnya pada Jumat lalu.

Dilansir The Guardian, Macron menyatakan bahwa negara-negara G7 ingin “bekerja secara terkoordinasi untuk membantu menurunkan harga produk minyak bumi, khususnya solar.”

Ancaman Larangan Ekspor AS Bikin Eropa Ketar-ketir

Di balik layar, negara-negara Eropa ternyata sudah ‘diteror’ oleh Gedung Putih dalam beberapa hari terakhir. Pilihannya berat: segera lepas pasokan darurat atau bersiap menghadapi larangan ekspor solar dari Amerika Serikat. Trump secara blak-blakan mengaku sedang mempertimbangkan untuk menyetop ekspor solar demi menekan harga BBM domestiknya jelang Pemilu Sela (Midterm Elections) AS di bulan November mendatang.

Baca juga :  AS Sudah Habiskan Rp400 Triliun untuk Perang Iran, Pentagon: Ini Bukan Perang Gagal

Bagi Eropa, larangan ekspor AS adalah mimpi buruk. Benua Biru memang memproduksi sekitar 70% kebutuhan solarnya dari kilang domestik, tapi mereka sangat bergantung pada impor untuk menutupi sisa kekurangannya. Para analis minyak juga sudah mewanti-wanti, persaingan ketat berburu kargo solar di pasar global cuma akan bikin harga makin terbang.

Menjawab tekanan ini, Macron berjanji bahwa anggota G7 dan mitranya akan menggenjot pelepasan solar dalam jumlah besar di 20 hari pertama. Pemimpin G7 juga sepakat melonggarkan aturan produksi agar kilang-kilang minyak bisa dipaksa bekerja pada kapasitas maksimalnya. Mereka memastikan tidak akan ada kebijakan yang “membatasi pertukaran energi dan produk minyak bumi antarnegara mitra”.

“Kami semua telah berkomitmen bersama untuk melepaskan cadangan strategis ini dalam proporsi yang saya sebutkan, dengan fokus pada solar, dan kami semua berkomitmen untuk memastikan tidak ada larangan ekspor, dan Presiden Trump, khususnya, sangat jelas mengenai poin ini,” ucap Macron.

G7 juga menambahkan bahwa mereka akan kembali membahas “kemungkinan pelepasan tambahan solar jika diperlukan” dalam beberapa hari ke depan.

Baca juga :  Pentagon Cari Cara 'Tak Biasa' Hukum Iran, Trump Kehabisan Opsi?

Trump pun langsung menyambut girang keputusan ini. Lewat platform Truth Social miliknya, ia menulis: “Eropa baru saja setuju untuk melepaskan sejumlah besar cadangan minyak solar mereka yang melimpah. Prosesnya akan dimulai segera.”

Harga Solar Mencekik, Solusi Global Dinilai Masih Setengah Hati

Di lapangan, dampak krisis ini sudah bikin rakyat menjerit. Di Inggris, rata-rata harga solar pada hari Jumat tembus rekor tertinggi di angka £2 per liter (sekitar Rp 39.000), memberi tekanan hebat bagi para pengendara. Menurut grup otomotif RAC, biaya untuk mengisi penuh tangki mobil keluarga rata-rata kini mencapai £110, melonjak hampir £32 lebih mahal dibanding sebelum pecah perang Iran.

Simon Williams, Kepala Kebijakan di RAC, mengeluhkan situasi ini. “Ini adalah ambang batas harga pompa yang tak seorang pun ingin lewati,” tukasnya. Parahnya lagi, angka RAC hanyalah harga rata-rata; di realitanya, banyak pom bensin sudah mematok harga di atas £2 per liter sejak lama.

Meski G7 sudah turun tangan, pengamat menilai langkah ini belum akan menyembuhkan luka intinya. Walt Chancellor dari Macquarie Group menyebut bahwa pelepasan cadangan ini tidak akan membereskan masalah mendasar yang dihadapi Amerika Serikat.

Baca juga :  Trump Tunda Serangan ke Iran, Timur Tengah Deg-Degan Lagi!

“Masalah inti yang dihadapi AS bukanlah masalah solar. Bukan juga masalah produk olahan. Ini bahkan mungkin bukan masalah minyak bumi. Ini adalah masalah energi global,” tegasnya, dikutip dari CNBC.

“Jadi apa solusinya? Singkatnya, lebih banyak minyak melalui selat Hormuz dan keluar dari Timur Tengah. Apa pun yang kurang dari itu benar-benar hanya mengatur ulang kursi dek kapal (usaha sia-sia),” tambahnya tajam.

Sebagai catatan, IEA, sang pengawas energi dunia, pada bulan Maret lalu sudah memerintahkan pelepasan cadangan minyak pemerintah terbesar sepanjang sejarahnya. Saat itu, mereka sepakat melepas 400 juta barel minyak mentah darurat untuk meredam syok harga minyak yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran.

Intervensi raksasa itu memakan sepertiga dari total cadangan pemerintah kelompok tersebut, jumlahnya bahkan lebih dari dua kali lipat dibanding pelepasan 182 juta barel minyak pada tahun 2022 pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Kini, harga minyak mentah Brent terpantau masih panas, diperdagangkan tepat di atas $100 per barel pada hari Jumat. Angka yang melompat jauh jika dibandingkan dengan harga sebelum perang Iran meletus yang hanya berkisar di angka $72 per barel.