The Fed Kerek Suku Bunga AS, Trump Mencak-Mencak, Ekonomi RI Terancam Kena Badai
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON – Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) kembali bermanuver tajam! Demi melawan hantu inflasi yang tak kunjung jinak, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan pada Rabu waktu setempat. Ini adalah pertama kalinya sejak 2023, dan keputusan ini langsung membuat tensi politik di Negeri Paman Sam mendidih.
Komite pasar terbuka (FOMC) The Fed sepakat bulat mematok kenaikan seperempat poin persentase, mengerek suku bunga ke kisaran 3,75% hingga 4%. Manuver perdana sejak Juli 2023 ini tak pelak langsung memicu ‘perang dingin’ antara Ketua The Fed saat ini, Kevin Warsh, dengan Donald Trump yang langsung meledak amarahnya.
“Faktanya jelas bahwa inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” tegas Warsh, Rabu (16/9). “Angka inflasi musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti.”
Sontak saja, pengumuman ini bikin Donald Trump mencak-mencak. Lewat akun Truth Social miliknya, Trump nyinyir abis dan ngotot suku bunga seharusnya dipangkas hingga 1% atau bahkan lebih rendah. Ia juga membawa-bawa defisit perdagangan AS, sesumbar bahwa Amerika bisa mengantongi “setidaknya 1,5 Triliun Dolar setahun” jika berani memutus hubungan dagang dengan negara-negara yang menyumbang defisit.
“Kita ‘menggendong’ hampir setiap negara di Dunia, dan itu tidak boleh berlanjut lagi. TURUNKAN SUKU BUNGA UNTUK AMERIKA SERIKAT, DAN LAKUKAN DENGAN CEPAT!,” tulis Trump dengan gaya khasnya yang penuh capslock danngegas.
Perang Timur Tengah Bikin Harga Minyak Meroket, Bos The Fed Tak Mau Didikte
Meski Warsh mengakui adanya pergeseran geopolitik yang bikin pusing, ia memilih irit bicara saat disinggung soal perang AS-Israel dengan Iran.
“Tidak ada yang bisa bersembunyi dari titik-titik konflik di seluruh dunia, dan penilaian kami tentang apa yang paling mungkin atau paling tidak mungkin terjadi dari situasi geopolitik telah berubah,” ujarnya.
Warsh juga ogah meladeni pertanyaan soal amukan Trump. Ia justru memberi peringatan keras bahwa independensi The Fed adalah “jalan dua arah”.
“Kami akan membiarkan orang-orang yang mengurus kebijakan perdagangan dan kebijakan fiskal tetap berada di jalurnya. Begitulah cara kami bisa berdiri di sini dan menilai mereka sesuai dengan apa yang kami lihat,” sentil Warsh tajam. Pihak Gedung Putih sendiri bungkam dan tak segera merespons permintaan komentar.
Proyeksi terbaru makin bikin ngeri. Mayoritas pejabat The Fed sudah memberi sinyal akan ada kenaikan suku bunga lagi sebelum tahun ini tutup buku. Empat pejabat bahkan memprediksi suku bunga acuan bisa tembus ke angka 4,25% hingga 4,5%. Bayangkan saja, pejabat The Fed memprediksi butuh waktu hingga tahun 2029 agar inflasi AS bisa jinak ke target 2%!
Semua kekacauan ini tak lepas dari efek domino perang panas AS dan Iran yang kembali saling serang, mendorong harga minyak mentah Brent ke level tertinggi dalam beberapa bulan. Bensin di AS meroket tajam, rata-rata lebih mahal $1 per galon dibanding tahun lalu. Solar yang jadi urat nadi logistik transportasi, bahkan baru-baru ini mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa di angka $6,31.
Kepanikan inflasi ini juga memicu aksi jual brutal di pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah bertenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Tentu saja, kondisi ini bikin rakyat Amerika makin menjerit karena cicilan KPR, kredit mobil, hingga utang mahasiswa ikut mencekik.
Jelang pemilu November, isu ekonomi jadi senjata politik paling mematikan. Trump bahkan berjanji manis akan membagikan “dividen Trump” sebesar $5.000 untuk setiap warga Amerika jika Partai Republik menguasai Kongres. Janji yang langsung dicibir para kritikus sebagai bentuk penyuapan terselubung, apalagi utang pemerintah AS baru saja mencetak rekor gila-gilaan menyentuh $40 triliun bulan lalu!
HAwas! Ibu Pertiwi Kena Getahnya, Ekonomi RI Bisa Makin Ngos-ngosan
Manuver tajam The Fed di Washington ini jelas bukan cuma urusan dalam negeri Amerika. Dampaknya dipastikan bakal merobek kenyamanan ekonomi Indonesia. Kenaikan suku bunga AS otomatis akan memicu tsunami capital outflow atau kaburnya modal asing dari Tanah Air. Para investor global yang mata duitan pasti akan memindahkan dananya dari negara berkembang seperti Indonesia untuk memborong dolar dan obligasi AS yang kini menawarkan imbal hasil jauh lebih seksi dan aman. Akibatnya, nilai tukar Rupiah terancam kembali terjungkal, babak belur di hadapan Dolar AS yang makin perkasa.
Jika Rupiah makin loyo, pukulan telak akan langsung dirasakan oleh sektor riil dan masyarakat bawah. Harga barang-barang impor, mulai dari bahan baku industri, gandum, kedelai, hingga BBM, akan meroket tajam (imported inflation). Ujung-ujungnya, Bank Indonesia (BI) mau tak mau bakal dipaksa ikut-ikutan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) demi menahan laju pelemahan Rupiah. Jika itu terjadi, bersiaplah menghadapi era kredit mahal! Cicilan rumah rakyat (KPR), kredit kendaraan, hingga modal usaha UMKM akan makin mencekik leher, berpotensi mematikan daya beli masyarakat dan mengerem laju pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini sedang susah payah merangkak naik.

Tinggalkan Balasan