TEHERAN DIKSIMERDEKA.COM Tensi di Timur Tengah kembali mendidih! Militer Amerika Serikat (AS) pada hari Selasa (8/9) kemarin ngamuk dan mengaku telah “menghancurkan” sejumlah kapal tanker minyak Iran. Aksi bumihangus ini dilakukan usai Iran nekat mencoba menghantam kapal perang Angkatan Laut AS pakai rudal balistik. Buntut dari aksi saling serang ini, dunia ketar-ketir, harga minyak mentah langsung meroket nyaris jebol di angka $100 per barel!

Komando Pusat AS (Centcom) membeberkan, pasukan paman Sam membidik kapal-kapal tanker itu di perairan Teluk Oman dan di dekat Pulau Kharg, Iran. Namun, AS mengklaim masih memberikan “ampun” bagi para kru. Pasukan Amerika “mengarahkan awak kapal untuk meninggalkan kapal sebelum kapal-kapal tersebut diserang,” tulis Centcom dalam pernyataannya.

Serangan mematikan ini tak lepas dari ulah nekat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang menargetkan kapal perang Angkatan Laut AS dengan rudal balistik sampai dua kali dalam dua hari terakhir.

“Kapal perang AS berhasil menghindari percobaan serangan Iran dan terus berpatroli di perairan regional. Tidak ada personel Amerika yang terluka,” tegas Centcom membanggakan alutsistanya.

Nyawa Dibalas Nyawa, Hujan Rudal Bikin Timur Tengah Mencekam

Tak terima asetnya diratakan, Garda Revolusi Iran langsung balas dendam. Pangkalan militer AS di Yordania jadi sasaran empuk. Beruntung bagi AS, sistem pertahanan udara Yordania berhasil merontokkan 18 dari 20 rudal balistik yang meluncur dari wilayah Iran. Kantor berita pemerintah Yordania melaporkan, dua rudal sisa jatuh di daerah tak berpenghuni dan nihil korban jiwa.

Baca juga :  Pakar Energi Sentil RI: Jangan Santai, Konflik Iran–Israel Bisa Ganggu BBM

Namun, teror belum usai. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran langsung menebar ancaman ngeri kepada kru kapal tanker minyak di dekat pelabuhan Kuwait dan Bahrain. Mereka disuruh segera angkat kaki atau kapalnya bakal jadi target balasan berikutnya!

Setelah Agustus kemarin sempat agak adem, baku tembak yang kembali pecah antara Iran dan AS ini sukses bikin jantungan pasar global. Harga minyak dunia meroket ke level yang terakhir kali terlihat pada bulan Juli. Pada perdagangan awal di Asia, Rabu (8/9/2026), harga minyak mentah nyaris menyentuh $100 per barel.

H2: Arab Saudi Kena Getah, Yaman Ikut Ngamuk

Konflik ini makin ruwet layaknya benang kusut. Di hari Selasa yang sama, kelompok Houthi asal Yaman—yang disokong penuh oleh Iran—ikut-ikutan menyerang empat kota di Arab Saudi. Serangan yang diduga melibatkan puluhan drone dan rudal ini bikin lebih dari 70 orang luka-luka dan menyulut kobaran api besar di fasilitas minyak wilayah selatan Saudi.

Baca juga :  ICP Februari 2026 Naik ke USD68,79 per Barel, Geopolitik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak

Melihat kilang minyaknya diobok-obok, Arab Saudi langsung bersumpah bakal melakukan aksi balasan setimpal atas perluasan perang Timur Tengah yang makin liar ini.

Di kubu Washington, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, melontarkan ultimatum keras. Saat berada di Kolombia, Rubio menegaskan bahwa AS tak akan tinggal diam melihat tingkah Iran.

“Iran terus berusaha menyerang kapal angkatan laut AS. Dan setiap kali mereka melakukan itu atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker. Dan saya pikir Anda akan melihatnya lagi hari ini,” tantang Rubio dengan nada tajam.

H2: Buntut Panjang: Drone Bawah Laut, Blokade Hormuz, Hingga Beban Berat Trump

Drama saling serang ini makin diperparah oleh perselisihan soal drone bawah laut Amerika di Selat Hormuz. TV Pemerintah Iran sebelumnya sesumbar IRGC telah menyita armada tersebut lewat sebuah “tindakan intelijen dan operasional yang kompleks saat fajar”, bahkan berjanji akan menyebarkan foto-fotonya.

Namun, klaim ini langsung dimentahkan oleh Juru Bicara Centcom AS, Kapten Pelaut Tim Hawkins. Menurutnya, Iran cuma dapat barang rongsokan.

“(Kapal selam nirawak) itu cacat dan model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif atau membawa peralatan sonar maupun radar rahasia,” cibir Hawkins, seraya menegaskan operasi AS di sana jalan terus.

Baca juga :  Selat Hormuz Ditutup, Harga BBM Terancam Melonjak: DPR Sebut Beban APBN Bisa Naik Rp10,3 Triliun

Hingga kini, urat nadi pengiriman minyak dan gas global di Selat Hormuz masih dicekik oleh blokade Iran selama lebih dari enam bulan sejak perang meletus. Sebagai balasan, AS juga mengunci mati pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kondisi genting ini sampai bikin Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Prancis Emmanuel Macron harus repot-repot ketemuan di Paris demi membahas keamanan Selat Hormuz. Korsel sendiri diam-diam sudah mengirim tim inspeksi ke Uni Emirat Arab (UEA) buat memantau situasi, meski mereka menepis keras isu bahwa AS mendikte Seoul untuk segera mengirim pasukan tempur.

Di ujung hari, konflik berdarah ini makin menjadi beban berat bagi Presiden Donald Trump di Washington. Ia dilaporkan pusing tujuh keliling berjuang mengakhiri perang yang sangat tidak populer ini, yang hingga kini telah merenggut nyawa 18 prajurit AS. Sementara di kubu seberang, otoritas Iran menyebut serangan gabungan AS dan Israel telah memakan korban tewas hingga ribuan jiwa—sebuah angka fantastis yang juga dibenarkan oleh kelompok pemantau independen di Amerika.