Beda Karakter, Beda Kebutuhan Pilih Pelihara Anjing atau Kucing? : Ini Pandangan Pakar Hewan IPB
BOGORDIKSIMERDEKA.COM – Memelihara hewan bukan sekadar soal suka atau gemas. Memilih anjing atau kucing sebagai hewan kesayangan juga perlu disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, hingga gaya hidup pemiliknya.
Anjing dikenal sebagai hewan yang loyal dan ekspresif. Sementara kucing cenderung lebih mandiri dan tidak selalu membutuhkan perhatian manusia secara intens. Perbedaan karakter tersebut penting dipahami sebelum seseorang memutuskan untuk membawa hewan peliharaan ke rumah.
Pakar Genetika Ekologi IPB University Prof Ronny Rachman Noor mengingatkan masyarakat agar tidak memilih hewan peliharaan hanya berdasarkan tren. Menurutnya, pemilik perlu memahami sifat alami anjing maupun kucing agar hubungan antara manusia dan hewan dapat berjalan harmonis.
Peringatan tersebut disampaikan dalam momentum International Dog Day yang diperingati setiap 26 Agustus.
“Anjing dikenal loyal, ekspresif, dan lebih sosial, sementara kucing cenderung mandiri dan lebih selektif. Dalam berkomunikasi, kucing biasanya menunjukkan halus dibandingkan anjing,” ujar Prof Ronny.
Anjing dan Kucing Makin Populer
Tren memelihara anjing dan kucing di Indonesia terus berkembang dalam satu dekade terakhir. Pada 2026, jumlah pemilik anjing diperkirakan mencapai 12 juta orang, sedangkan pemilik kucing sekitar 9 juta orang.
Namun, arah tren tersebut mulai berubah. Kepemilikan anjing relatif stabil dan banyak ditemukan di rumah tangga perdesaan maupun kawasan suburban. Selain menjadi sahabat, anjing juga masih dipelihara untuk membantu menjaga keamanan rumah.
Sementara itu, kepemilikan kucing meningkat cukup pesat, terutama di kota-kota besar. Adopsi kucing jalanan bahkan disebut mencapai 38 persen.
Perubahan tren tersebut ikut menggerakkan industri pakan hewan peliharaan. Nilai industrinya disebut telah mencapai lebih dari Rp3,2 triliun.
Sekitar 80 persen pemberian pakan dilakukan pemilik melalui platform daring. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat turut menciptakan pasar baru di sektor hewan kesayangan.
Prof Ronny bahkan memperkirakan jumlah pemilik kucing akan melampaui pemilik anjing dalam 10 tahun mendatang.
Anjing Butuh Aktivitas dan Interaksi
Menurut Prof Ronny, perbedaan karakter anjing dan kucing tidak terlepas dari sejarah domestikasi keduanya.
Anjing diperkirakan telah didomestikasi sekitar 40.000 tahun lalu. Pada masa awal, anjing banyak dimanfaatkan untuk berburu dan menjaga rumah.
Karakter sosial anjing kemudian berkembang kuat. Hewan ini dikenal senang berinteraksi dengan manusia maupun hewan lainnya.
Anjing juga memiliki cara komunikasi yang ekspresif. Bahasa tubuh, ekspresi wajah, hingga suara seperti gonggongan digunakan untuk menyampaikan respons dan kebutuhan.
Karena karakter tersebut, memelihara anjing membutuhkan komitmen waktu dari pemilik.
“Pemilik anjing perlu sering mengajak anjingnya berjalan, bermain, serta melakukan stimulasi fisik dan mental. Karena itu, anjing sangat bergantung pada pemiliknya untuk perhatian, makanan, dan aktivitas,” jelas Prof Ronny.
Artinya, anjing lebih cocok bagi pemilik yang aktif dan memiliki waktu untuk mengajaknya beraktivitas. Membawa anjing berjalan-jalan, bermain, serta memberikan stimulasi mental bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi bagian dari kebutuhan hewan tersebut.
Kucing Lebih Mandiri
Berbeda dengan anjing, kucing memiliki sejarah domestikasi yang lebih banyak berkaitan dengan kehidupan manusia di kawasan pertanian.
Kucing diperkirakan telah didomestikasi sekitar 12.000 tahun lalu untuk membantu mengendalikan hama di lingkungan pertanian.
Sebagai karnivora obligat, kucing juga membutuhkan makanan dengan kandungan protein yang tinggi.
Dari sisi perilaku, kucing cenderung lebih mandiri dan soliter. Cara mereka berkomunikasi dengan manusia pun relatif lebih halus.
“Karakternya cenderung lebih soliter dan mandiri. Cara komunikasi mereka lebih halus dibandingkan anjing, melalui aroma (feromon), gerakan ekor, serta suara lembut seperti meong dan dengkuran,” ujarnya.
Karakter tersebut membuat kucing menjadi pilihan yang relatif sesuai bagi masyarakat dengan aktivitas padat, termasuk mereka yang tinggal di tempat dengan ruang terbatas.
Namun, mandiri bukan berarti kucing tidak membutuhkan perhatian. Pemilik tetap harus memahami kebutuhan dasar, kesehatan, makanan, kebersihan, dan lingkungan yang sesuai bagi kucing.
Jangan Salah Pilih Hewan Peliharaan
Perbedaan karakter tersebut membuat pilihan antara anjing dan kucing sebaiknya dikembalikan kepada gaya hidup pemilik.
Masyarakat yang aktif, menyukai kegiatan luar ruang, dan memiliki waktu untuk berinteraksi dengan hewan dapat mempertimbangkan anjing sebagai companion animal.
Sebaliknya, mereka yang memiliki kesibukan tinggi dan membutuhkan hewan peliharaan dengan karakter lebih mandiri dapat mempertimbangkan kucing.
Prof Ronny menekankan pentingnya menyelaraskan ekspektasi pemilik dengan karakter alami hewan.
“Jika kita suka kegiatan di luar ruangan, anjing lebih sesuai sebagai hewan peliharaan. Sebaliknya, jika kita sibuk dan membutuhkan hewan peliharaan yang mandiri, kucing adalah pilihan yang tepat,” pesannya.
Pada akhirnya, memelihara hewan bukan hanya tentang mendapatkan teman di rumah. Ada tanggung jawab yang ikut melekat sejak seseorang memutuskan untuk memeliharanya.
Pemilik perlu memastikan hewan mendapatkan makanan yang sesuai, aktivitas yang cukup, perhatian, serta lingkungan yang mendukung perilakunya.
Memahami karakter anjing dan kucing sejak awal juga dapat mencegah pemilik memiliki ekspektasi yang keliru terhadap hewan peliharaannya.
Dengan begitu, keputusan memelihara anjing atau kucing tidak berhenti pada faktor kesukaan maupun tren. Pilihan tersebut harus mempertimbangkan kecocokan antara kebutuhan hewan dan kemampuan pemilik dalam merawatnya.
Sebab, hubungan yang sehat antara manusia dan hewan peliharaan dibangun dari pemahaman, bukan sekadar rasa suka.

Tinggalkan Balasan