DIKSIMERDEKA.COM – Harga minyak dunia turun tajam pada Selasa (4/8) setelah muncul harapan baru bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, segera dibuka kembali menyusul kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat, Iran, dan Oman.

Dilansir The Guardian, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, merosot hampir 5 persen hingga berada di bawah 80 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga turun lebih dari 5 persen ke kisaran 76 dolar AS per barel.

Penurunan tersebut membawa harga minyak ke level terendah dalam hampir tiga pekan terakhir dan langsung disambut positif oleh pasar keuangan global.

Optimisme pasar muncul setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent mengungkapkan adanya kemajuan dalam pembahasan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Rubio mengatakan negosiasi mengenai jalur pelayaran tersebut menunjukkan perkembangan positif, meski belum mencapai kesepakatan final.

“Sudah ada kemajuan dalam pembicaraan itu, tetapi belum mencapai tahap akhir. Kami berharap kesepakatan dapat segera terwujud,” ujar Rubio kepada wartawan.

Senada dengan Rubio, Bessent bahkan memperkirakan kesepakatan dapat tercapai secepatnya, antara Selasa atau Rabu waktu setempat.

“Ada peluang kita mendapatkan kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka kembali Selat Hormuz dan bergerak menuju situasi yang lebih normal,” katanya dalam wawancara dengan CNBC.

Meski demikian, hingga kini pemerintah Amerika Serikat belum mengungkapkan rincian isi kesepakatan yang sedang dibahas.

Iran Tegaskan Berunding dengan Oman

Di sisi lain, Iran menegaskan tidak sedang bernegosiasi langsung dengan Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pembicaraan yang berlangsung saat ini dilakukan bersama Oman, yang kembali berperan sebagai mediator.

Menurut Tehran, diskusi mengenai mekanisme baru pelayaran di Selat Hormuz berjalan positif, namun belum ada keputusan resmi mengenai pembukaan penuh jalur tersebut.

Qatar yang juga menjadi mediator dalam konflik mengaku masih terus berupaya mendorong penyelesaian diplomatik, meski saat ini belum ada agenda perundingan langsung antara Washington dan Tehran.

Jalur Vital Pasokan Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Namun sejak konflik meningkat, Iran menghentikan sebagian besar lalu lintas kapal di kawasan itu. Amerika Serikat juga memperketat blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi yang didukung Iran memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah sejak 20 Juli lalu.

Akibatnya, jalur alternatif pengiriman energi juga menjadi semakin berbahaya setelah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang.

Pada Selasa, sebuah kapal berbendera India dilaporkan tenggelam setelah terkena proyektil di dekat perairan Yaman. Seluruh 14 awak kapal berhasil diselamatkan.

Pasar Masih Waspada

Meski harga minyak turun, para analis mengingatkan pasar belum sepenuhnya keluar dari tekanan.

Mereka menilai kegagalan sejumlah upaya diplomatik sebelumnya membuat investor masih berhati-hati terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah.

“Investor sangat menyadari bahwa proses menuju kesepakatan yang benar-benar bertahan masih sangat rapuh,” kata Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson.

Menurutnya, pasar minyak tetap rentan terhadap perubahan situasi politik dan militer di kawasan.

Harga BBM Masih Tinggi

Lonjakan harga minyak selama konflik telah berdampak langsung pada harga bahan bakar di berbagai negara.

Di Inggris, harga bensin rata-rata kini mencapai sekitar 1,60 pound sterling per liter, sementara di Amerika Serikat harga bensin rata-rata masih berada di atas 4 dolar AS per galon.

Selama beberapa bulan terakhir, harga minyak sempat melonjak hingga menembus 120 dolar AS per barel ketika konflik memanas, sebelum kembali turun setiap kali muncul kabar mengenai peluang perundingan damai.

Fluktuasi tersebut juga membuat perusahaan energi raksasa seperti BP, Shell, Chevron, dan Exxon Mobil membukukan keuntungan besar.

Namun para analis menilai prospek pasar minyak masih sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat konflik.

Apabila Selat Hormuz benar-benar kembali dibuka dalam waktu dekat, pasokan energi global diperkirakan berangsur normal sehingga tekanan terhadap harga minyak dan biaya bahan bakar di berbagai negara dapat mulai mereda.