ATHENA DIKSIMERDEKA/COM Kebakaran Hutan Pulau Kreta berubah menjadi tragedi setelah tiga petugas pemadam kebakaran (damkar) Yunani tewas saat berjuang menjinakkan kobaran api yang terus meluas. Gelombang panas ekstrem dan angin kencang membuat kebakaran semakin sulit dikendalikan, sementara sejumlah negara di Eropa masih berpacu mencegah api merambah kawasan permukiman.

Departemen Pemadam Kebakaran Yunani menyebut korban gugur ketika berjuang memadamkan kobaran api yang terus meluas akibat suhu tinggi dan angin kencang.

Dilansir The Guardian,kebakaran kini membentang dari pesisir Atlantik hingga Mediterania timur, bahkan menjangkau Dataran Tinggi Skotlandia sampai selatan Spanyol. Para ahli memperingatkan kebakaran tahun ini menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan karena banyak titik api sulit dikendalikan dan membakar kawasan yang berdekatan dengan kota-kota besar.

Di Prancis, suhu udara mencapai 38 derajat Celsius di Bordeaux. Petugas pemadam berhasil mencegah kobaran api di hutan pinus meluas ke kawasan permukiman.

Sementara itu di Spanyol, suhu di Madrid menyentuh 37 derajat Celsius. Kebakaran hutan terbesar dalam sejarah negara itu dilaporkan telah “stabil secara teknis”, meski petugas masih terus melakukan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan kondisi di sekitar Madrid mulai membaik, namun menegaskan situasi masih sangat rawan.

“12 jam ke depan akan sangat penting. Waktu tersebut akan menentukan keberhasilan upaya yang telah dilakukan sistem perlindungan sipil nasional,” ujarnya.

Meski demikian, kebakaran lain di dekat València masih belum berhasil dikendalikan.

Baca juga :  Zelensky Ngotot! Minta Jaminan Keamanan 20 Tahun dari AS Sebelum Teken Damai

Angin Kencang Perparah Situasi

Para petugas pemadam memperingatkan gelombang panas keempat yang melanda Eropa Barat pada musim panas tahun ini membuat vegetasi semakin kering sehingga api mudah menyebar.

Tiupan angin kencang juga meningkatkan risiko munculnya kembali titik-titik api di lokasi yang sebelumnya telah dinyatakan aman.

Kebakaran baru bahkan memaksa otoritas melakukan evakuasi di sejumlah wilayah Yunani dan Turki.

Di Prancis, otoritas menyatakan 126 petugas pemadam mengalami luka-luka sejak kebakaran besar melanda wilayah Gironde.

Luas area yang terbakar mencapai sekitar 42.000 hektare, atau setara lebih dari 58.000 lapangan sepak bola, menjadikannya salah satu kebakaran terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut.

Ratusan Ribu Orang Mengungsi

Data European Forest Fire Information System (EFFIS) menunjukkan luas kawasan yang terbakar di Prancis telah memecahkan rekor.

Prancis dan Spanyol juga mencatat jumlah kebakaran tertinggi untuk periode yang sama sepanjang sejarah pencatatan.

Baca juga :  Gelombang Panas Eropa: Dua Balita Tewas dalam Mobil Saat Suhu Tembus 43 Derajat

Lebih dari 330.000 orang di Eropa Selatan terpaksa meninggalkan rumah dan hotel demi menyelamatkan diri.

Sebagian warga mulai diizinkan kembali ke rumah setelah api berhasil dikendalikan.

Namun banyak di antara mereka hanya menemukan bangunan yang hangus terbakar.

Seorang pensiunan berusia 74 tahun, José Fernández, mengaku kehilangan segalanya.

“Saya tidak punya uang, tidak punya dokumen, dan tidak punya rumah lagi. Tempat ini sudah menjadi puing-puing,” katanya kepada AFP.

Perubahan Iklim Jadi Ancaman

Para ilmuwan menyebut musim kebakaran di Eropa kini berlangsung lebih lama dan lebih panas akibat perubahan iklim yang dipicu emisi bahan bakar fosil.

Gelombang panas yang berulang membuat hutan dan semak belukar mengering sehingga berubah menjadi “bahan bakar” yang mudah terbakar.

Pejabat Uni Eropa bahkan memperingatkan kebakaran hutan berpotensi terus berlangsung hingga November.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyampaikan apresiasi kepada para petugas pemadam kebakaran yang terus berjuang di garis depan.

“Ketika kebakaran di Prancis dan Spanyol terus berkobar, solidaritas Eropa tidak mengenal batas,” tulisnya melalui media sosial.

Sejumlah negara, termasuk Rumania, Yunani, Polandia, Italia, Portugal, Turki, Swedia, dan Serbia, mengirimkan pesawat, helikopter, personel, serta kendaraan pemadam untuk membantu wilayah terdampak.

Baca juga :  Bundaran Rp24 Miliar di Hungaria Jadi Sorotan, Dibangun Tapi Tak Terpakai

Kerugian Mencapai Miliaran Euro

Tim Manajemen Krisis Uni Eropa memperkirakan beberapa pekan ke depan masih akan menjadi periode yang sangat sulit, terutama bagi Italia dan Yunani yang diperkirakan menghadapi kebakaran susulan.

Pakar kebakaran dari Emergency Response Coordination Centre (ERCC), Moisés Galán Santano, menegaskan bahwa pemadaman bukan satu-satunya solusi.

Menurutnya, upaya pencegahan harus menjadi prioritas melalui pengelolaan hutan, restorasi lahan basah, peningkatan sistem pemantauan, serta edukasi kepada masyarakat.

Analisis ilmiah terbaru menunjukkan gelombang panas ekstrem tahun ini telah menyebabkan sedikitnya 10.000 kematian di Eropa dan menimbulkan kerugian sekitar 2 miliar euro pada sektor pertanian akibat gagal panen.

Ketua bersama Partai Hijau Eropa, Vula Tsetsi, mendesak lembaga-lembaga Uni Eropa segera mengambil langkah lebih tegas menghadapi krisis iklim.

Menurutnya, gelombang panas dan kebakaran hutan yang dipicu perubahan iklim telah merenggut nyawa, menghancurkan rumah, serta meluluhlantakkan hutan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tanpa kebijakan yang lebih cepat dan terkoordinasi, bencana serupa diperkirakan akan semakin sering melanda kawasan Eropa pada tahun-tahun mendatang.